Gila! Benar-benar gila! Harga minyak dunia diperkirakan tidak lama lagi akan menembus angka tiga digit.
Kuliah asistensi Perekonomian Indonesia (PI)…Tidak ada model perekonomian yang mampu memprediksi pergerakan harga minyak dunia. Itu yang dikatakan oleh asisten dosen PI saya, Gaffari Ramadhan, pada suatu asistensi. Semua itu hanya motif coba-coba dari negara-negara Timur Tengah. Pada mulanya, harga minyak dunia naik dari sekitar $ 20-an perbarel. Lalu, negara-negara Timur Tengah coba-coba menaikkan harga minyak sampai $ 50 per barel. Ternyata kenaikan ini tidak memberikan efek pada perekonomian dunia. Everything goes well. Akhirnya mereka menaikkan lagi harga minyak dunia sampai terakhir saya baca mencapai $ 99 per barel.
Emerging Market
Naiknya harga minyak dunia secara signifikan ini dimulai karena “ulah” China dan India yang mengalami emerging market. Emerging market merupakan suatu kondisi di mana pasar mengalami pertumbuhan dengan sangat pesat. Pertumbuhan yang pesat ini dipengaruhi oleh meningkatnya produksi sektor industri yang sangat besar dalam waktu yang singkat. Meningkatnya produksi berarti ada peningkatan dalam faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi, baik itu human capital seperti jumlah dan skill pekerja maupun physical capital seperti bahan baku produksi, dalam hal ini minyak bumi. Sayangnya, peningkatan permintaan terhadap minyak ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi minyak dunia. Dalam ilmu ekonomi, apabila jumlah permintaan terhadap suatu barang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penawarannya, akan terjadi kelangkaan (scarcity). Kelangkaan suatu barang atau jasa menyebabkan harga barang atau jasa itu mengalami kenaikan. Begitulah yang terjadi dengan harga minyak dunia.
Prediksi IMF
IMF (Dana Moneter Internasional) memprediksikan pertumbuhan ekonomi global tahun 2008 sebesar 5,2 persen, lalu diturunkan menjadi 4,8 persen. Sebelumnya, IMF dalam World Economic Outlook oktober 2007 menyebutkan bahwa perekonomian AS yang semula diproyeksikan tumbuh 2,8 persen direvisi jadi 1,9 persen. Sedangkan pertumbuhan perekonomian zona Eropa yang semula diproyeksikan 2,5 persen turun menjadi 2,5 persen. Pertumbuhan ekonomi global yang menurun ini bermula dari kasus subprime mortgage di US. Subprime mortgage merupakan kredit perumahan yang diberikan pada golongan masyarakat menengah ke bawah. Ceritanya, kredit perumahan tersebut disekuritisasi menjadi CDO atau collateral debt obligation dan diperdagangkan di pasar derivatif. Kemelut berawal dari ketidakmampuan masyarakat golongan menengah ke bawah tersebut dalam membayar kredit perumahannya. Karena mengalami proses sekuritisasi, maka krisis likuiditas yang terjadi lebih gawat lagi. Tidak hanya mortgage saja, namun juga CDO-nya. Akibatnya, tingkat likuiditas perbankan US menjadi rendah. Untuk menutupi hal ini, US harus menarik cadangan likuiditas keuangannya dari pasar dunia. Inilah yang membuat perekonomian dunia menjadi melambat dan membuat US terpaksa menurunkan suku bunganya menjadi 4,5% (terakhir kali saya baca).
Perekonomian Indonesia
28 November 2007 – Kuliah Perekonomian Indonesia dengan Faisal Basri.
He is really amazing, inspiring! Ini nih yang dibahas…
Indonesia yang mempunyai banyak cadangan minyak pun di buat tak berkutik. Yup, kita memang salah satu negara yang bodoh. Masih saja mau masuk OPEC. Apa si yang kita dapatkan dengan join dengan OPEC? Kita tidak bisa menjual harga minyak kita sesuai dengan keinginan kita, padahal kualitas minyak kita tergolong sangat bagus di dunia karena kandungan oktannya yang rendah. Semua ini gara-gara Indonesia yang goblok! (Gaffari dan Faisal Basri juga sependapat akan hal ini). Indonesia masih mengimpor minyak mentah dari luar negeri yang kualitas minyaknya buruk. Selain karena lifting minyak kita yang tidak mencukupi, kualitas minyak kita tersebut akan sia-sia bila kita memakai minyak produksi dalam negeri saja. Makanya kita masih mengimpor minyak mentah dari luar negeri.
Menurut saya, keterlibatan Indonesia dalam OPEC ini tidak terlepas dari unsur politik. Indonesia masih mengharapkan insentif dari keterikatannya dengan OPEC. Tidak yakin dengan kemampuan sendiri. Tidak mandiri! Well, sepertinya Indonesia harus berpikir lagi, dan lagi..Dari sisi ekonomi, jika benefit yang didapatkan dari melakukan sesuatu lebih sedikit dibandingkan dari cost yang dikeluarkan, maka lebih baik sesuatu itu tidak dilakukan. Mungkin di sini letak permasalahannya. Tidak semua orang mempunyai parameter atau variabel yang sama dalam mengukur hubungan cost-benefit ini. Bisa juga karena ada unsur “oknum” yang bermain di dalamnya. Oknum yang hanya memikirkan kepentingan pribadi, bukan kepentingan rakyat, bangsa atau negara. Gak tau apa Indonesia mau semaput?
Next… Cost of production PERTAMINA. Biaya yang diperlukan untuk mengambil 1 barrel minyak dari perut bumi adalah sekitar $ 27. Sedangkan perusahaan minyak lain biasanya adalah sekitar $9. Nah, ada beberapa skenario menurut saya. Pertama, teknologi Indonesia masih belum secanggih perusahaan lain tersebut. Tapi saya sebenarnya tidak yakin dengan skenario ini seratus persen. Kalaulah teknologi yang digunakan agak ketinggalan zaman, seharusnya selisih cost tersebut tidak jauh seperti ini. Bayangkan, tiga kali lipat! Kedua (ini menurut Faisal Basri), PERTAMINA adalah ladang korupsi. Biaya produksi dikorupsi oleh “tikus-tikus” tertentu yang tidak bertanggung jawab. Well, sebenarnya saya masih meragukan hipotesis Bang Faisal ini si.. Solusi cerdas dari si Abang, “ Kenapa gak bangun kilang minyak saja?”. “Ini pun ada kendalanya,” ujar si Abang kemudian, “Indonesia ini masih dikuasai oleh orang-orang yang busuk, antek-antek Soeharto dan oknum lainnya. Mereka punya kapal tanker yang dibutuhkan Indonesia untuk lalu lintas ekspor-impor minyak. Bayangkan kalau kilang minyak dibangun, maka lalu lintas tersebut akan menurun dan menyebabkan menurunnya pendapatan bagi mereka.”
Masih soal PERTAMINA. Bagaimana lifting minyak tidak bakalan turun jika yang produksi di dalam negeri cuma PERTAMINA mulu?! Ini salahnya pemerintah! Eksplorasi minyak di Indonesia tergolong TIDAK MENARIK. Semuanya karena CPS (Construction Production Sharing) di Indonesia 85:15. Maksudnya, jika ada pihak asing yang ingin mengeksplor minyak di Indonesia, mereka harus berbagi keuntungannya dengan porsi: 85 persen untuk pemerintah dan 15 persen untuk pihak asing tersebut. Sangat TIDAK MENARIK.
Haha.. Bobrok sekali Indonesia ini.
Move on dari si Abang…
Sekarang, APBN Indonesia 2007 membengkak. Begitu pula dengan RAPBN 2008. Semua ini tentu saja oleh harga minyak dunia yang naik gila-gilaan. Awalnya, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak $60 per barrel dalam RAPBN 2008. Tentu saja ini NOL BESAR. Tidak mungkin harga minyak dunia kembali ke kepala enam. Lalu direvisi jadi $100 per barrel kemarin ini. Untung saja direvisi. Saya melihat pemerintah terlalu optimis, bahkan sangat tidak masuk akal, jika tetap mempertahankan asumsi harga minyak sebesar $60 per barrel.
Inflasi diperkirakan 6,4-6,7 persen pada tahun 2008. Jauh dari prediksi pemerintah yang hanya sebesar 6,3 persen. Memang, sepertinya Inflation Targetting Framework (ITF) yang menargetkan inflasi 2008 sebesar +/- 5 tidak akan tercapai. ITF tahun 2008 tetap +/- 6. Kurs rupiah terhadap US Dollar ditargetkan sebesar Rp 9.050 pada APBN 2008. Memang, kurs rupiah saat ini masih di kisaran Rp 9.300 – Rp 9.400 per US Dollar. Untuk tahun-tahun ke depan, fakta menunjukkan bahwa investor asing menganggap Indonesia masih berprospek. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya penjualan obigasi pemerintah jangka panjang seri FR.
Nogmong-ngomong tentang pemerintah, sepertinya pemerintahan SBY sekarang terlalu menjaga image. Sudah jelas harga minyak dunia melambung tinggi seperti ini, harga BBM tidak juga dinaikkan. Benar, HARGA BBM TIDAK AKAN NAIK SAMPAI 2009, ini janji SBY pada rakyat Indonesia. Waduh, mas.. Kalo berjanji mikir dulu, toh..Jangan cuma mikirin kepentingan pribadi..
(Pihak mana yang diuntungkan dengan harga BBM yang murah? Pertama, pihak penyelundup minyak. Mereka memanfaatkan arbitrase dalam hal ini. Beli BBM di Indonesia murah, lalu menjual di luar negeri dengan harga mahal. Benar-benar culas! Kedua, pihak the HAVE yang biasanya memakai mobil untuk bepergian. Dari sisi ekonomi, seharusnya mereka pay more! Mereka semakin mendorong kemacetan, polusi udara, dan global warming, khususnya di daerah Jakarta. Mereka harus membayar biaya lebih karena eksternalitas negatif yang mereka timbulkan. Solusinya, naikkan saja pajak kendaraan bermotor atau buat lebih macet lagi!! Hehe, mampus.. Tetapi jika dilihat dari sisi kesetaraan harkat dan martabat sebagai manusia, hal ini juga tidak bisa dibenarkan karena mereka juga bagian dari bangsa Indonesia walaupun mereka tidak miskin. Yah… Menurut saya, lebih baik berpikir pakai hati. Melihat realita yang ada yang ada di sekitar mereka saja. Semakin lama bumi semakin panas karena perbuatan mereka. Iya, namanya pemanasan global atau lebih dikenal dengan global warming. Penyebabnya adalah pemakaian kendaraan bermotor secara berlebihan, pemakaian AC – parfum yang mengandung CFC, tidak hemat listrik, dan lainnya.)
Saya melihat dalam hal ini ada unsur politisnya. Mungkin SBY mau maju lagi pada pemilihan presiden 2009 nanti. Jadi, harus jaga image dulu, seolah-olah berpihak pada rakyat. Padahal, dari sisi ekonomi, harga BBM yang tetap Rp 4.500 per liter ini sangat merugikan negara, menguntungkan beberapa pihak. Walhasil, pemerintah pasti defisit lagi tahun 2008 (Bukannya mendoakan, tapi inilah kenyataannya). Ujung-ujungnya, pemerintah mengeluarkan obligasi ORI, SUN, atau SPN lagi untuk mendapatkan dana guna menutupi defisit anggaran. Gali lubang, tutup lubang.. Lebih baik, SBY lebih realistis saja memandang Indonesia saat ini. Naikkan saja BBM, tapi imbangi dengan usaha memakmurkan rakyat miskin di Indonesia. jangan lewat subsidi langsung seperti dahulu. Tidak efektif, ladang korupsi. Lebih baik membangun sekolah-sekolah keterampilan untuk meningkatkan kemampuan rakyat miskin. Atau mempertahankan dan meningkatkan apa yang sudah dilakukan sekarang yaitu membuka TBM (taman baca masyarakat) dan program buku teks untuk sekolah, agar menciptakan manusia-manusia yang unggul dan mampu bersaing.