I’m BACK!

Posted in My Life on November 26, 2008 by leonywesvalia

I’m BACK!!!

Setelah sekian lama tidak menulis, saya merasa otak saya menjadi tumpul, hilang dari masyarakat, hilang dari sejarah…Sekarang saya akan kembali menulis!

Jadi, nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya. ciao!

di…..
leonypunyacerita.blogspot.com….
hehehehe…

Am I A Capitalist?

Posted in My Thoughts on April 5, 2008 by leonywesvalia

I'm not that person!

-I’m not that person!-

Apakah saya seorang kapitalis? Pertanyaan ini sering mengusik saya dulu. Tapi sekarang tidak.

Teori saya, mau tidak mau seseorang harus menjadi kapitalis untuk dapat survive. So, bullshit saja jika ada orang yang mengatakan dia tidak kapitalis. Jauh di bawah sadar kamu semua, manusia mau tidak mau harus menjadi kapitalis untuk dapat bertahan hidup. Saya tidak percaya ada orang yang mengatakan saya idealis memperjuangkan “poor people”. Kamu baru bisa memperjuangkan mereka ketika kebutuhan kamu telah terpenuhi dengan kapitalis yang ada dalam diri kamu.

Dahulu ketika saya bergabung di BEM UI, saya merasa saya menjadi seseorang yang sangat idealis. Segala-galanya saya pikirkan “demi kepentingan bersama”. Ya, saya menganut utilitarian tentu ketika itu. Namun, ketika masa kepengurusan BEM berakhir, entah karena tidak lagi di BEM entah karena saya mulai melihat “kejamnya” dunia luar, idealisme bagi saya saat ini bukan sesuatu hal yang membanggakan. Idealisme seperti itu tidak dapat membuat keluarga saya makan dengan kenyang, tidur dengan selimut hangat, dan tinggal di rumah yang layak!

Saya tidak tahu apakah pikiran saya yang seperti ini dipengaruhi oleh kehidupan kampus FE UI yang sangat kapitalis dan menjunjung tinggi individualisme. Memang, sebagian besar buku kuliah saya adalah buku Amerika yang liberal dan kami diajarkan bahwa tujuan perusahaan adalah “maximizing shareholder wealth”. Bukan “demi kepentingan publik/masyarakat/negara”.

Saya sering sekali melihat teman-teman saya yang “IDEALIS” berbicara tentang kemiskinan,-pengangguran – pemerintahan yang bobrok, ikut demonstrasi, ikut seminar pergerakan dan kongres ini-itu, dan sejenisnya terkadang hanya untuk merasa bahwa ia “berbeda”. Maksud saya, biar terlihat keren, bahasa kasarnya. Saya lihat sebagian besar dari mereka tinggi hati, “Gue tahu yang lu tidak tahu”. Ada perasaan superior dibandingkan teman-teman yang lain. Saya sih cuma maklum saja karena saya telah melalui masa-masa seperti itu. Saya cuma berharap “idealisme” mereka mbok ya dipertahankan saja. Jangan sampai ketika telah mencoba “uang” di dunia post-mahasiswa nanti, mereka malah menjadi musuh yang dahulu mereka demo. Bidang politik memang lahan yang bejat! Saya benci dengan kelicikan dan kepura-puraan yang ada padanya. Saya juga sangat benci pada orang yang ternyata mempergunakan apa-yang-mereka-sebut-idealis untuk mencapai untuk mencapai tujuan pribadinya. Munafik. Sok suci padahal sangat bejat.

In conclusion, according to me, idealism is just a bullshit! Kamu yang idealis pasti kamu yang kebutuhan untuk survivenya telah terpenuhi. Makanya kamu bisa “memperjuangkan” kepentingan orang lain. Harus diingat, kamu bekerja tidak hanya untukmu sendiri. Kamu punya keluarga yang harus kamu support. Mungkin dari tadi kamu menyimpulkan saya tidak punya hati. Tidak kok, saya punya hati. Saya cuma berpikir, saya memiliki tanggung jawab pada orang tua saya dan adik-adik saya. Juga pada Pencipta saya. Saya cuma heran, ada teman saya yang menjadi ketua HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) namun kuliahnya terbengkalai. Tidak ingat dengan tanggung jawabnya pada orang tua-kah? Semua orang punya prioritas. Prioritas saya, membalas jasa orang tua saya. Setelah saya memenuhi tanggung jawab pada orang tua saya, barulah saya membantu si “tak berpunya” nanti. Yang jelas, saya bukan si idealis yang sok suci!

Harga Minyak Dunia and Its Impacts

Posted in My Indonesia on November 29, 2007 by leonywesvalia

Gila! Benar-benar gila! Harga minyak dunia diperkirakan tidak lama lagi akan menembus angka tiga digit.

Kuliah asistensi Perekonomian Indonesia (PI)…Tidak ada model perekonomian yang mampu memprediksi pergerakan harga minyak dunia. Itu yang dikatakan oleh asisten dosen PI saya, Gaffari Ramadhan, pada suatu asistensi. Semua itu hanya motif coba-coba  dari negara-negara Timur Tengah. Pada mulanya, harga minyak dunia naik dari sekitar $ 20-an perbarel. Lalu, negara-negara Timur Tengah coba-coba menaikkan harga minyak sampai $ 50 per barel. Ternyata kenaikan ini tidak memberikan efek pada perekonomian dunia. Everything goes well. Akhirnya mereka menaikkan lagi harga minyak dunia sampai terakhir saya baca mencapai $ 99 per barel.

Emerging Market

Naiknya harga minyak dunia secara signifikan ini dimulai karena “ulah” China dan India yang mengalami emerging market. Emerging market merupakan suatu kondisi di mana pasar mengalami pertumbuhan dengan sangat pesat. Pertumbuhan yang pesat ini dipengaruhi oleh meningkatnya produksi sektor industri yang sangat besar dalam waktu yang singkat. Meningkatnya produksi berarti ada peningkatan dalam faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi, baik itu human capital seperti jumlah dan skill pekerja maupun physical capital seperti bahan baku produksi, dalam hal ini minyak bumi. Sayangnya, peningkatan permintaan terhadap minyak ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi minyak dunia. Dalam ilmu ekonomi, apabila jumlah permintaan terhadap suatu barang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penawarannya, akan terjadi kelangkaan (scarcity). Kelangkaan suatu barang atau jasa menyebabkan harga barang atau jasa itu mengalami kenaikan. Begitulah yang terjadi dengan harga minyak dunia.

 

Prediksi IMF

IMF (Dana Moneter Internasional) memprediksikan pertumbuhan ekonomi global tahun 2008 sebesar 5,2 persen, lalu diturunkan menjadi 4,8 persen. Sebelumnya, IMF dalam World Economic Outlook oktober 2007 menyebutkan bahwa perekonomian AS yang semula diproyeksikan tumbuh 2,8 persen direvisi jadi 1,9 persen. Sedangkan pertumbuhan perekonomian zona Eropa yang semula diproyeksikan 2,5 persen turun menjadi 2,5 persen. Pertumbuhan ekonomi global yang menurun ini bermula dari kasus subprime mortgage di US. Subprime mortgage merupakan kredit perumahan yang diberikan pada golongan masyarakat menengah ke bawah. Ceritanya, kredit perumahan tersebut disekuritisasi menjadi CDO atau collateral debt obligation dan diperdagangkan di pasar derivatif. Kemelut berawal dari ketidakmampuan masyarakat golongan menengah ke bawah tersebut dalam membayar kredit perumahannya.  Karena mengalami proses sekuritisasi, maka krisis likuiditas yang terjadi lebih gawat lagi. Tidak hanya mortgage saja, namun juga CDO-nya. Akibatnya, tingkat likuiditas perbankan US menjadi rendah. Untuk menutupi hal ini, US harus menarik cadangan likuiditas  keuangannya dari pasar dunia. Inilah yang membuat perekonomian dunia menjadi melambat dan membuat US terpaksa menurunkan suku bunganya menjadi 4,5% (terakhir kali saya baca).

Perekonomian Indonesia

28 November 2007 – Kuliah Perekonomian Indonesia dengan Faisal Basri.

He is really amazing, inspiring! Ini nih yang dibahas…

Indonesia yang mempunyai banyak cadangan minyak pun di buat tak berkutik. Yup, kita memang salah satu negara yang bodoh. Masih saja mau masuk OPEC. Apa si yang kita dapatkan dengan join dengan OPEC? Kita tidak bisa menjual harga minyak kita sesuai dengan keinginan kita, padahal kualitas minyak kita tergolong sangat bagus di dunia karena kandungan oktannya yang rendah. Semua ini gara-gara Indonesia yang goblok! (Gaffari dan Faisal Basri juga sependapat akan hal ini). Indonesia masih mengimpor minyak mentah dari luar negeri yang kualitas minyaknya buruk. Selain karena lifting minyak kita yang tidak mencukupi, kualitas minyak kita tersebut akan sia-sia bila kita memakai minyak produksi dalam negeri saja. Makanya kita masih mengimpor minyak mentah dari luar negeri.

Menurut saya, keterlibatan Indonesia dalam OPEC  ini tidak terlepas dari unsur politik. Indonesia masih mengharapkan insentif dari keterikatannya dengan OPEC. Tidak yakin dengan kemampuan sendiri. Tidak mandiri! Well, sepertinya Indonesia harus berpikir lagi, dan lagi..Dari sisi ekonomi, jika benefit yang didapatkan dari melakukan sesuatu lebih sedikit dibandingkan dari cost yang dikeluarkan, maka lebih baik sesuatu itu tidak dilakukan. Mungkin di sini letak permasalahannya. Tidak semua orang mempunyai parameter atau variabel yang sama dalam mengukur hubungan cost-benefit ini. Bisa juga karena ada unsur “oknum” yang bermain di dalamnya. Oknum yang hanya memikirkan kepentingan pribadi, bukan kepentingan rakyat, bangsa atau negara. Gak tau apa Indonesia mau semaput?

Next… Cost of production PERTAMINA. Biaya yang diperlukan untuk mengambil 1 barrel minyak dari perut bumi adalah sekitar $ 27. Sedangkan perusahaan minyak lain biasanya adalah sekitar $9. Nah, ada beberapa skenario menurut saya. Pertama, teknologi Indonesia masih belum secanggih perusahaan lain tersebut. Tapi saya sebenarnya tidak yakin dengan skenario ini seratus persen. Kalaulah teknologi yang digunakan agak ketinggalan zaman, seharusnya selisih cost tersebut tidak jauh seperti ini. Bayangkan, tiga kali lipat! Kedua (ini menurut Faisal Basri), PERTAMINA adalah ladang korupsi. Biaya produksi dikorupsi oleh “tikus-tikus” tertentu yang tidak bertanggung jawab. Well, sebenarnya saya masih meragukan hipotesis Bang Faisal ini si.. Solusi cerdas dari si Abang, “ Kenapa gak bangun kilang minyak saja?”. “Ini pun ada kendalanya,” ujar si Abang kemudian, “Indonesia ini masih dikuasai oleh orang-orang yang busuk, antek-antek Soeharto dan oknum lainnya. Mereka punya kapal tanker yang dibutuhkan Indonesia untuk lalu lintas ekspor-impor minyak. Bayangkan kalau kilang minyak dibangun, maka lalu lintas tersebut akan menurun dan menyebabkan menurunnya pendapatan bagi mereka.”

Masih soal PERTAMINA. Bagaimana lifting minyak tidak bakalan turun jika yang produksi di dalam negeri cuma PERTAMINA mulu?! Ini salahnya pemerintah! Eksplorasi minyak di Indonesia tergolong TIDAK MENARIK. Semuanya karena CPS (Construction Production Sharing) di Indonesia 85:15. Maksudnya, jika ada pihak asing yang ingin mengeksplor minyak di Indonesia, mereka harus berbagi keuntungannya dengan porsi: 85 persen untuk pemerintah dan 15 persen untuk pihak asing tersebut. Sangat TIDAK MENARIK.

Haha.. Bobrok sekali Indonesia ini.

Move on dari si Abang…

Sekarang, APBN Indonesia 2007 membengkak. Begitu pula dengan RAPBN 2008. Semua ini tentu saja oleh harga minyak dunia yang naik gila-gilaan. Awalnya, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak $60 per barrel dalam RAPBN 2008. Tentu saja ini NOL BESAR. Tidak mungkin harga minyak dunia kembali ke kepala enam. Lalu direvisi jadi $100 per barrel kemarin ini. Untung saja direvisi. Saya melihat pemerintah terlalu optimis, bahkan sangat tidak masuk akal, jika tetap mempertahankan asumsi harga minyak sebesar $60 per barrel.

Inflasi diperkirakan 6,4-6,7 persen pada tahun 2008. Jauh dari prediksi pemerintah yang hanya sebesar 6,3 persen. Memang, sepertinya Inflation Targetting Framework (ITF) yang menargetkan inflasi 2008 sebesar +/- 5 tidak akan tercapai. ITF tahun 2008 tetap +/- 6. Kurs rupiah terhadap US Dollar ditargetkan sebesar Rp 9.050 pada APBN 2008. Memang, kurs rupiah saat ini masih di kisaran Rp 9.300 – Rp 9.400 per US Dollar. Untuk tahun-tahun ke depan, fakta menunjukkan bahwa investor asing menganggap Indonesia masih berprospek. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya penjualan obigasi pemerintah jangka panjang seri FR.

Nogmong-ngomong tentang pemerintah, sepertinya pemerintahan SBY sekarang terlalu menjaga image. Sudah jelas harga minyak dunia melambung tinggi seperti ini, harga BBM tidak juga dinaikkan. Benar, HARGA BBM TIDAK AKAN NAIK SAMPAI 2009, ini janji SBY pada rakyat Indonesia. Waduh, mas.. Kalo berjanji mikir dulu, toh..Jangan cuma mikirin kepentingan pribadi..

(Pihak mana yang diuntungkan dengan harga BBM yang murah? Pertama, pihak penyelundup minyak. Mereka memanfaatkan arbitrase dalam hal ini. Beli BBM di Indonesia murah, lalu menjual di luar negeri dengan harga mahal. Benar-benar culas! Kedua, pihak the HAVE yang biasanya memakai mobil untuk bepergian. Dari sisi ekonomi, seharusnya mereka pay more! Mereka semakin mendorong kemacetan, polusi udara, dan global warming, khususnya di daerah Jakarta. Mereka harus membayar biaya lebih karena eksternalitas negatif yang mereka timbulkan. Solusinya, naikkan saja pajak kendaraan bermotor atau buat lebih macet lagi!! Hehe, mampus.. Tetapi jika dilihat dari sisi kesetaraan harkat dan martabat sebagai manusia, hal ini juga tidak bisa dibenarkan karena mereka juga bagian dari bangsa Indonesia walaupun mereka tidak miskin. Yah… Menurut saya, lebih baik berpikir pakai hati. Melihat realita yang ada yang ada di sekitar mereka saja. Semakin lama bumi semakin panas karena perbuatan mereka. Iya, namanya pemanasan global atau lebih dikenal dengan global warming. Penyebabnya adalah pemakaian kendaraan bermotor secara berlebihan, pemakaian AC – parfum yang mengandung CFC, tidak hemat listrik, dan lainnya.)

Saya melihat dalam hal ini ada unsur politisnya. Mungkin SBY mau maju lagi pada pemilihan presiden 2009 nanti. Jadi, harus jaga image dulu, seolah-olah berpihak pada rakyat. Padahal, dari sisi ekonomi, harga BBM yang tetap Rp 4.500 per liter ini sangat merugikan negara, menguntungkan beberapa pihak. Walhasil, pemerintah pasti defisit lagi tahun 2008 (Bukannya mendoakan, tapi inilah kenyataannya). Ujung-ujungnya, pemerintah mengeluarkan obligasi ORI, SUN, atau SPN lagi untuk mendapatkan dana guna menutupi defisit anggaran. Gali lubang, tutup lubang.. Lebih baik, SBY lebih realistis saja memandang Indonesia saat ini. Naikkan saja BBM, tapi imbangi dengan usaha memakmurkan rakyat miskin di Indonesia. jangan lewat subsidi langsung seperti dahulu. Tidak efektif, ladang korupsi. Lebih baik membangun sekolah-sekolah keterampilan untuk meningkatkan kemampuan rakyat miskin. Atau mempertahankan dan meningkatkan apa yang sudah dilakukan sekarang yaitu membuka TBM (taman baca masyarakat) dan program buku teks untuk sekolah, agar menciptakan manusia-manusia yang unggul dan mampu bersaing.

DPR: Dewan Perwakilan Rubah!

Posted in My Indonesia on November 20, 2007 by leonywesvalia

Saya tidak habis pikir. Kenapa anggota DEWAN TERHORMAT kita di Indonesia, DPR, tidak memikirkan kesejahteraan rakyat. Banyak sekali hal-hal yang menurut saya dilakukan karena TERLENA akan posisi dan kedudukannya sebagai anggota dewan yang terhormat itu.

Baru saja tadi pagi saya dengar bahwa DPR akan membahas RUU (baca: rapat RUU) Pemilu di hotel. Sekali lagi, HOTEL! Apa yang mereka pikirkan?? Seperti tidak pernah nginap di hotel saja. Tentu saja pakai UANG RAKYAT! Haduh… Di mana hati nurani mereka sebagai, katanya, wakil rakyat tetapi malah menggerogoti hak rakyat! Gemas saya mendengar berita, lagi-lagi tentang DPR yang tidak bermoral, tidak berprikemanusiaan. Flash back… Kemarin dulu, mereka si wakil rakyat itu jalan-jalan ke luar negeri seenak jidatnya. Katanya, studi banding. Tapi menurut saya, itu tamasya bersama. Memang negara Indonesia segitu terbelakangnya, sampai-sampai di sini tidak ada teknologi internet, telepon, dan apapun itu alat komunikasi jarak jauh?? Sepertinya kebutuhan akan tamasya menjadi kebutuhan primer bagi mereka. Sama seperti jika mereka tidak makan atau tidak berpakaian. Menurut saya, orang miskin yang kesulitan makan dan orang gila yang tidak berpakaian pun lebih bermoral dari pada mereka.

Belum lagi kasus aliran dana dari BI ke DPR yang mencapai milyaran rupiah. Kata Gaffari Ramadhan, asisten dosen Perekonomian Indonesia saya, transfer dana itu istilahnya sebagai uang pelicin agar urusan BI cepat selesai. JIka tidak dibayarkan, urusan BI akan sangat lama selesainya, bahkan tidak dikerjakan oleh mereka. Lalu saya tanya dia, apakah itu diatur di UU? Apakah itu sah menurut hukum? Ternya tidak, Saudaraku. Tidak ada satu UU pun yang membahas bahwa UANG PELICIN tersebut ada di dalamnya! Lantas, salahnya di mana? Apa ada di orang-orang BI yang bego’ mau membayar uang pelicin tersebut. Atau di DPR yang tidak mau bekerja jika tidak ada uang pelicin? Menurut saya, DUA-DUAnya sama salahnya dalam kasus ini. BI bego’ dan sok kaya… DPR(ubah)… Binatang…

rubah.jpg

Coba cari persamaannya?

anggota-dpr.jpg

Back to the hotel…..

Memang MORAL dan RASA MALU merupakan sesuatu yang sangat EKSKLUSIF harganya di Indonesia. Apalagi di gedung Panekuk Kembar di Senayan itu. Alasan mereka, jika rapat di Senayan itu TIDAK EFEKTIF karena ribut dan banyak anggota rapat yang terlambat datang karena KEMACETAN di Jakarta. Wow, wow, WOW!! What a surprise ya?? Lalu, untuk apa gedung panekuk kembar itu di bangun? Sebagai simbol saja, menurut saya. Simbol bahwa kita punya gedung DPR MPR, yang spertinya lebih efektif jika digunakan untuk demonstrasi mahasiswa daripada untuk membahas urusan negara. Simbol bahwa kita itu negara loohh..

TERLAMBAT datang rapat. Please deh, Anda-Anda di Panekuk Kembar lebih rendah dibandingkan anak TK (taman kanak-kanak) dalam soal disiplin. Apa Anda semua sebaiknya kembali ke TK saja ya?? Tentu saja, Anda bisa memperkirakan waktu perjalanan (termasuk kemacetan. Memang, pembangunan jalan raya di Jakarta menjadi minus sejak pembangunan jalan Bus Way mengambil jatah jalan raya biasa) agar tidak terlambat datang rapat. Saya yakin, Anda semua bisa melakukannya dengan baik!

Hal yang miris sekali, sepertinya kebudayaan” terlambat datang” telah dipupuk sejak menjadi mahasiswa. Di kampus saya, UI, HAMPIR semua rapat maupun acara selalu telat. Ini terjadi di mana-mana, termasuk di BEM UI.

Kenyataannya, rapat di hotel tersebut tidak benar-benar efektif dilakukan karena tidak semua anggotanya menginap di hotel tersebut. Ada yang pulang ke rumahnya dan terlambat lagi besok paginya. Bagaimana ini dibiarkan terjadi, Saudaraku sebangsa setanah air?? Berapa lagi uang rakyat yang digunakan untuk hal-hal yang TIDAK PENTING dan TIDAK PERLU oleh DPR? Siapa yang bisa menghentikan ini?? Sadarlah, anggota dewan yang terhormat.. Anda dipilih dan digaji oleh uang rakyat! Seharusnya anda memikirkan kepentingan rakyat! Bukan KEPENTINGAN ANDA. Gak ingat apa, kalau akhirat itu ada? Well, bukan akhirat. Gak ingat apa, kalau neraka itu ada?

Tulisan Saya vs Tulisan Teman Saya 2

Posted in My Thoughts on November 5, 2007 by leonywesvalia

And this is my article…

Eksternalitas Negatif Bulan Ramadhan?

Assalamualaikum W.W

                   Pertama, saya ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi seluruh warga FE UI, khususnya, yang menunaikannya. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT. Amin ya Rabbal Alamin.

                   Let’s move on..

                   Picik. Itu kata pertama yang keluar dari mulut saya melihat tulisan Saudara Armand tentang Islam “di dalam pikirannya”. Berani men-judge sesuatu tanpa mendalaminya (atau sekedar berkonsultasi) terlebih dahulu. Memang, persoalan mengenai agama tidak akan pernah tuntas dibahas.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” (QS Al-Israa’ : 36)

Eksternalitas Negatif?

                   Perihal warung atau tempat makan yang ditutup gorden di bulan puasa. Apakah hal ini memberikan suatu eksternalitas negatif terhadap pihak ketiga? Jawabannya memang relatif. Tergantung tingkat toleransi kita terhadap umat beragama lain (walaupun Islam tidak mengakui adanya agama lain). Mungkin banyak pihak (baca: mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa )yang tidak terlalu senang dengan kondisi ini.

                   Seperti Saudara Armand ini. Wajar saja ia merasa resah menghadapi bulan Ramadhan. Ini adalah wajar..

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu…” (QS Ali Imran; 151)

Menurut saya, ini bukanlah suatu eksternalitas negatif! Ini bagian dari toleransi terhadap umat beragama lain. Saya setuju bahwa toleransi memang bukanlah sesuatu hal yang untuk dipaksakan. Islam sendiri bukanlah agama yang penuh keterpaksaan!

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam…” (QS Al Baqarah; 256)

Ini menyangkut hak. Kita harus ingat, hak kita terhadap sesuatu juga dibatasi oleh hak orang lain. Jadi, kita tidak bisa menuntut hak kita secara penuh. Egois sekali mereka yang terlalu menuntut hak tanpa menimbang hak orang lain di dalamnya?

                   Alternatif gorden sebagai penutup tempat makan menurut saya sudah tepat. Ini merupakan jalan tengah dari konflik kepentingan dan hak umat beragama. Yang saya bingungkan, apakah ada tidaknya gorden yang menutupi warung itu berkorelasi dengan nafsu makan seseorang? (Memang gorden penting, ya?) Apakah dengan adanya gorden tersebut menyebabkan mereka menjadi tidak nafsu makan? Kalau ingin makan, ya makan saja.. (Gitu aja kok repot!) Lantas, apa yang salah dengan gorden-gorden tersebut? Oke. Pertanyaan yang lebih tepat adalah seperti ini, bagaimana dengan orang-orang yang berpuasa pada bulan lain selain Ramadhan, di mana warung atau tempat makan buka secara bebas? Ada alasan logis di balik semua ini. Tidak semua orang berpuasa pada hari tersebut sedangkan pada bulan Ramadhan semua umat Islam diwajibkan berpuasa tanpa terkecuali. Tentu saja ini merupakan dua hal yang berbeda. Bulan Ramadhan ini merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, di mana pahala-pahala dilipatgandakan oleh Allah SWT. Jadi, tidak ada salahnya jika umat agama Islam ingin menjalankan ibadahnya secara optimal dan dengan sebaik-baiknya. Jadi intinya, hal ini merupakan bagian dari toleransi antarumat beragama.

                   Saya sendiri termasuk orang yang tidak terlalu mempermasalahkan adanya restoran atau warung yang buka pada bulan Ramadhan karena saya memakai prinsip lokus internal. Karena puasa itu tidak hanya menyangkut menahan nafsu ingin makan saja. Ia menyangkut menahan diri dari nafsu dan perbuatan yang membatalkan puasa. Menahan diri lahir dan batin. Jadi, saya lebih fokus pada bagaimana-saya-bisa-menahan-diri-dari-segala-hal-yang-membatalkan-atau-merusak-pahala-puasa.

FPI: Front Pembela Islam

“Pokok segala sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah…” (HR Muslim)

Kasus FPI. Dalam kasus ini, saya sangat menyayangkan perbuatan FPI yang menghancurkan warung dan tempat makan karena buka di bulan Ramadhan. Ini merupakan suatu bentuk hal yang anarkis dan berlebihan. Agama Islam sendiri bukanlah agama yang menghalalkan kekerasan seperti ini. Lagipula Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Memang benar, semua umat Islam memang ingin “menarik perhatian” Allah. Namun, tentu saja dengan cara meniru akhlak Nabi Muhamad SAW dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Jadi, lebih pada hubungan batin antara manusia dengan pencipta-Nya. Tidak dengan cara pemaksaan dan kekerasan, apalagi melakukan hal-hal yang anarkis seperti pemusnahan warung dan tempat makan. Terlalu picik jika kita mengambil stereotip perbuatan FPI sebagai perbuatan umat Islam secara keseluruhan.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Baqarah; 190)

                   Menurut saya, FPI telah salah tafsir terhadap ayat di atas (ternyata ayat-ayat Al-Quran yang memakai bahasa universal di seluruh dunia saja dapat memberi tafsiran yang berbeda-beda bagi umat Islam itu sendiri). “Perang” tidak hanya menyangkut hubungan kita dengan orang lain namun juga antara akal pikiran dan perasaan kita – sejauh mana kita bisa melawan hawa nafsu dalam diri kita sendiri. Perang merupakan jalan terakhir yang ditempuh dan perang diperbolehkan adalah perang demi membela agama Islam dalam keadaan benar-benar terpaksa. Bukan dalam keadaan tenang seperti keadaan sekarang ini, bukan dalam kasus ini! Seharusnya, mereka dapat bertindak lebih bijaksana dan menimbang terlebih dahulu manfaat-mudharat dari perbuatan mereka itu.

Soal Eksistensial

                   Persoalan eksistensial pada kasus FPI berkaitan dengan prinsip eksistensial Socrates. Jika kita mengerti inti sebenarnya ayat di atas secara eksistensial maka penghancuran tersebut tidak perlu terjadi. Jadi, ini merupakan pelajaran juga bagi umat Islam. Pelajarilah dahulu ayat Al-Quran (yang dijadikan pegangan dalam berbuat) secara mendalam sebelum berbuat agar tidak sesat kemudian!

                   Eksistensi sosial memang dapat mempengaruhi eksistensi individu (by Marx). Namun, manusia sebagai makhluk dengan hegemoni intelektual seharusnya bisa berpikir tentang hal yang terbaik untuk diri sendiri dan lingkungannya terlepas dari struktur masyarakat tempat ia berada. Terlepas dari pikiran-pikiran yang didoktrin oleh kelompok-kelompok tertentu. Terlepas dari etika otonom, etika yang menekankan manusia sebagai individu yang sanggup menentukan hukum atau kaidahnya sendiri.

Wassalamualaikum W.W

-Leony Wesvalia-

Anggota Divisi Penerbitan Badan Otonom Economica FEUI

Tulisan Saya vs Tulisan Teman Saya

Posted in My Thoughts on November 5, 2007 by leonywesvalia

Ini tulisan teman saya yang saya komentari….

Here it is!!

Thursday, October 11, 2007

Keresahan yang Selalu Datang

This article is published in Mading Eksternal BOE. This one invoked controvercies b’cos relating to a religion and senstitivity. Anyway, I don’t care since I think they just read this with their emotions not with their brains. I’m just trying to analyse conditions in fasting month.

Bulan Ramadhan telah datang pada bulan September ini dan seluruh umat Islam menyambutnya dengan sukacita, karena menurut ajaran agama mereka, bulan ini adalah bulan suci sebab merupakan bulan dimana dosa-dosa mereka dapat diampuni sebelum lebaran tiba, kalau saya tidak salah. Selama satu bulan penuh mereka menjalankan ibadah puasa, menahan lapar, haus, berpikiran kotor, jahat, merokok, dll. Ketika bulan ini tiba berarti segala sesuatu yang berbau godaan mengenai kelaparan, kehausan, pikiran kotor, dll, harus dihapuskan dari bumi Indonesia, yang memang seperti itulah kenyataannya.
Segala sesuatunya nampaknya dirasakan sudah merupakan keharusan dan norma yang harus dipatuhi oleh masyarakat. Warung-warung makan ditutupi dengan gorden agar tidak ada yang melihat makanan tersebut dan membatalkan puasanya, bila ada yang tidak menutupinya akan terkena amuk massa atau para aparat kepolisian yang datang dengan gagahnya bersiap untuk menghancurkan warung makan tersebut atas nama ketaatan beragama, tanpa peduli alasan mengapa mereka berjualan, bahwa pemiliknya akan kehilangan mata pencahariannya yang mungkin untuk waktu yang sangat panjang.
Padahal, mungkin saja banyak orang beragama non-muslim yang tidak mengetahui arti dari gorden yang menutupi makanan bukan berarti rumah makan tersebut tutup. Yang menjadi pertanyaan besarnya adalah, apakah muslimin dan muslimah sendiri takut tergoda dengan semuanya itu? Bukankah lebih baik membiarkan saja orang-orang tersebut leluasa menjalankan usahanya? Bukankah dengan begitu turut memberikan nafkah bagi mereka, lagipula bukankah di bulan puasa ini katanya tidak boleh tidur melulu untuk menghindari rasa lapar, yang menurut saya memiliki esensi bahwa kita harus melakukan sesuatu yang seperti biasanya kita lakukan? Lalu kenapa mereka dilarang berjualan atas nama pahala yang akan didapatkan bila menjalankan puasa dengan baik dan benar, lagipula bila mereka tidak tergoda akan semuanya itu, bukannya lebih mendapatkan ’perhatian’ dari Allah?

Eksternalitas negatif
Apa yang saya tangkap dari datangnya bulan Ramadhan ini adalah kebebasan yang seakan-akan terbabat habis bagi pihak ketiga yang tentu saja merugikan mereka dan mengakibatkan eksternalitas negatif bagi orang tersebut. Saya sangat setuju dengan toleransi beragama, namun dengan melarang orang berjualan dan menghancurkannya tanpa ba-bi-bu, atau memukuli orang yang mungkin terlihat sengaja merokok di depan perokok yang sedang menjalani ibadah puasa bukan cara yang tepat.
Kalau warung makan ada yang dihancurkan karena tidak menutupi tempatnya , saya belum pernah mendengar atau melihat perempuan yang ditelanjangi karena berpakaian seronok. Untung saja perempuan-perempuan yang memakai baju atau celana ketat dan atau rok mini tidak dilarang atau ditelanjangi di depan umum, sebab secara analogi dengan rumah makan yang dihancurkan, seharusnya yang berpakaian seronok menurut mereka ditelanjangi juga tanpa mereka sempat berkata satu kata apapun. Kalau ini terjadi saya tidak bisa membayangkan seberapa besar social cost yang akan ditanggung dan terjadi kerugian yang sangat besar dalam masyarakat.

Front Pengkhianat Islam (FPI)
Saya tidak terlalu resah dengan kejadian penghancuran warung makan dan pelarangan orang yang merokok di depan umum, yang memicu keresahan saya yang terbesar adalah mereka yang mengaku-ngaku sebagai sekumpulan orang pembela Islam yang nampaknya senang sekali dan bangga bisa menghancurkan tempat-tempat hiburan malam sambil menenteng alat pemukul dan perusak lainnya. Mereka seringkali menimbulkan kerusuhan dan mengancam keselamatan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Mengapa saya sebut FPI sebagai pengkhianat Islam? Mereka secara tidak langsung, sebab mereka mungkin tidak tahu arti ajaran agama Islam yang sesungguhnya, telah megkhianati ajaran agama mereka sendiri yang mengharuskan mereka saling mengasihi satu sama lain (setidaknya inilah yang saya tahu). Saya tidak merasa kasihan kepada pemilik tempat hiburan, meskipun kasusnya sejenis dengan pengrusakan rumah makan, karena selain mereka relatif jauh lebih kaya dan sebagian besar melakukan praktik penyuapan, namun saya lebih merasa kasihan terhadap umat muslim lainnya yang seakan-akan mendapatkan persepsi bahwa membela Islam harus seperti itu. Mereka yang tidak bisa menerima stigma umat muslim sebagai teroris, nampaknya harus tertunduk malu karena bantahan mereka tidak beralasan bila melihat apa yang dilakukan oleh FPI. Teror menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah perbuatan yang sewenang-wenang (kejam, bengis, dsb) ; usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Mereka yang melakukan teror disebut teroris. FPI menurut saya cocok menyandang gelar tersebut dan secara tidak langsung umat Islam turut merasakan getah dari stigma tersebut.

Toleransi beragama ≠ pemaksaan
Di awal-awal tulisan secara implisit terlihat bahwa saya mendukung rumah makan yang tidak menutupi makanannya dengan gorden. Bukan itu maksud saya. Apa yang saya tekankan dalam kalimat-kalimat tersebut adalah saya tidak setuju dengan pemaksaan toleransi beragama dengan cara seperti itu. Biarkan saja ada rumah makan yang seperti itu sebab saya percaya dengan Marx yang mengatakan “eksistensi sosial menentukan eksistensi indiviual” dan bukan sebaliknya, sehingga pemilik rumah makan tersebut yang berada di lingkungan yang di dalamnya terdapat rumah makan yang menutupi makanannya dengan gorden akan berpikir untuk melakukan hal yang sama.
Tulisan ini tidak bermaksud menghina umat Islam ataupun menjelek-jelekkan bulan Ramadhan. Akhir kata, bagi teman-teman yang menjalankan ibadah puasa, selamat menjalankan ibadah puasa dengan baik dan benar (Armand Arief)

Trus…saya balas begini..

Lakum Dinukum Waliyadiin..

Posted in My Life on October 30, 2007 by leonywesvalia

Idul Fitri yang aku jalani tahun ini agak berbeda. Rasanya aku tidak mendapat apa-apa selain rasa lapar dan haus. Belakangan ini kepala ku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan aneh perihal arti Tuhan bagiku. Semua ini gara-gara Atheis. Iya, buku sastra klasik itu. Buku yang aku baca lebih lama. Memang, biasanya aku membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membaca sebuah buku dibandingkan dengan teman-temanku. Apalagi buku-buku “menarik” menurutku. Bukannya lebih cepat, tapi menjadi lebih lama. Seperti buku ini. Aku membacanya, memberi “stabillo”, lalu merenung sebentar. Pokoknya, aku benar-benar mencari mood yang tepat karena masalah ini sangat menarik perhatianku.

Setelah membaca buku itu, aku agak sering merenung. Menurutku, agama lahir memang karena ketidaksempurnaan manusia. Tapi bukan karena kemiskinan, kelaparan, perang, dan sejenisnya. Maksudku bukan karena penderitaan yang kita alami. Tapi karena pemikiran di otak kita, tidak peduli keadaan kita menderita atau tidak. Kenapa bisa ada alam ini? Kenapa kita bisa ada? Pasti ada “sesuatu” yang lebih “besar” dari kita, bukan? Jadi, sekarang aku dalam proses pencarian “agama yang sebenarnya”.. Terlepas dari segala dogma dan sugesti.

“Jadi, kamu sekarang murtad?”

“Tidak, aku tidak murtad. Aku yakin agamaku adalah agama yang benar. Aku hanya ingin membandingkannya dengan agama lain untuk memperkuat keimananku, untuk mempertebal keyakinanku bahwa agama yang kupeluk adalah agama yang paling benar. Setidaknya, menurutku.”

Aku akui ini perdebatan kesekian kalinya dalam diriku menyangkut agama. Namun, inilah yang paling berat sepertinya. Aku berpikir seperti ini..

Apakah para manusia memeluk suatu agama karena mereka keluarga mereka  beragama tersebut semenjak lahir?  Tidakkah mereka bertanya-tanya, apakah agama yang mereka peluk tersebut telah mereka yakini betul kebenarannya terlepas dari pengaruh keluarga dan lingkungan sekitar mereka.

Sampai akhirnya aku menanyakannya pada diriku sendiri, apakah aku beragama Islam karena aku “given” dilahirkan sebagai seorang muslimah.. Sebenarnya aku sempat takut untuk berpikir mengenai agama karena menurutku hal ini bukanlah sesuatu yang main-main. Sebab, agama akan mempengaruhi kehidupan seseorang (dan bukan sebaliknya). Aku agak takut pada awalnya. Takut lemah iman dan akhirnya jadi kafir. Tapi aku yakin aku harus melalui masa-masa ini. Cepat atau lambat.

Aku pikir, di dunia ini banyak orang yang memeluk agamanya karena terdogmatisasi oleh keluarga dan lingkungannya. Mereka tidak betul-betul bisa menerima sepenuhnya bahwa ajaran agama mereka itu pure. Apakah kitab suci mereka itu bersih dari kitab bikinan manusia.

family-jg.jpg

Suatu sore, aku pernah berbincang-bincang bersama beberapa orang temanku mengenai agama kami masing-masing. Temanku, sebut saja Mr. A,  beragama Khatolik dan mengaku bahwa ia memeluk agamanya memang karena ia terdogmatisasi oleh keluarganya. Begitu pula dengan Mr.D yang beragama Protestan. Mereka berdua tidak percaya pada bible-nya. Mereka hanya percaya pada Doa Aku Percaya. Jadi, jika kuperhatikan secara langsung. Terkadang, seseorang harus mengalah pada pemikirannya akan kebenaran. Seberapa idealis pun ia (Salah satu dari temanku itu terkenal “kritis” dan pikirannya logis. Tukang kritik. Tapi ia ternyata terlalu tidak berani untuk mempelajari agama lain). Karena taruhannya yang sangat besar, keluarga. Mereka lebih memilih untuk tetap beragama tersebut karena keluarga mereka memeluk agama tersebut padahal mereka belum (bahkan tidak) meyakini agamanya. Aku pikir sangat banyak orang-orang seperti ini di Indonesia. Entah karena masih kurangnya toleransi antarumat beragama (walaupun mereka satu keluarga), entah karena hal lainnya.. Tapi aku sadar, ini merupakan pilihan masing-masing orang. Lakum dinukum waliyadiin.. Bagimu, agamamu. Bagiku, agamaku. Tidak bisa dipaksakan. Walaupun sebenarnya, aku agak menyayangkan mereka yang tidak berusaha mempelajari agama lain padahal mereka tidak yakin kebenaran dan kemurnian ajaran agamanya.

Dan aku.. Walaupun masih dalam tahap perbandingan, sampai saat ini aku masih meyakini Islam sebagai agamaku dan agama yang paling benar..

Saya Tidak Ingin Ber-Tuhan

Posted in Compositions on September 27, 2007 by leonywesvalia

Saya Islam. Dia Protestan. Saya ke mesjid. Dia ke gereja. Saya membaca Al-Quran. Dia membaca Al-Kitab. Lalu, apa ada yang salah jika kami saling mencintai? Tentu saja tidak. Maksud saya tidak tahu. Dan saya tidak mau tahu. Saya akui bahwa sebenarnya saya terlalu takut untuk mengakui bahwa saya takut. Takut merasa bersalah pada Tuhan saya. Hahaha. Untuk ribuan kalinya saya sangat ingin beranjak dari realitas kehidupan yang ada. Saya tidak ingin bertuhan!

sad_songs__.jpg

Karena…. Saya sangat mencintai dia. Karena… Dia sangat mencintai saya. Saya takut kehilangan dia. Sungguh saya takut. Terlalu takut. Dia juga takut kehilangan saya. Sama takutnya dengan saya. Saya tahu itu walaupun dia tidak pernah mengatakan hal itu pada saya. Kami dimabuk cinta. Rasionalitas pikiran menjadi hal yang absurd untuk kami turuti. Karena kami dimabuk cinta.

Jika malam turun merampas benderangnya siang, kami sering terhanyut dalam dunia atheis yang kami ciptakan berdua. Biasanya dua-tiga kali setiap minggu – jika masih ada detik, menit, jam, hari, minggu, bahkan windu dalam dunia kami. Dunia di mana cinta kami berdua tidak lagi dibatasi oleh regulasi dari Tuhan kami masing-masing. Tidak ada tatapan saya-tidak-suka-pada-pacar-kamu dari orang tua kami. Seolah kami sepasang tahanan politik yang abu-abu, yang sebentar lagi hitam berkerak. Tidak ada tatapan nanar yang menyorotkan jangan-pernah-jatuh-cinta-dengan-lelaki-yang-berbeda-agama-denganmu dan kata-kata dari teman-teman saya, sejenis Masya-Allah, Astaghfirullah…Tidak ada celotehan yang menurut saya tak beradab dan bodoh dari teman-teman dia tentang saya, saya-adalah-sang-domba-yang-sangat-sesat… Tidak, saya tidak terima dikatakan domba! Saya manusia. Hanya saja, saya tidak ingin ber-Tuhan!

Saya ingin terus berada di dunia kami, yaitu dunia di mana pretensi dilegalkan. Bahkan hanya ada pretensi. Sebuah dunia dengan sebuah bahasa mutual yang hanya dapat kami pahami berdua. Tidak ada signifikansi waktu di dunia kami. Semua terasa seperti malam, yang memberikan kami ketenangan dan kesempatan terbaik untuk bercinta lagi. Sebuah dunia di mana kami bisa mereguk kenikmatan surga duniawi bersama. Tentu berdua saja! Maksud saya, saat saya bisa bercinta dengan dia. Sampai akhirnya dia melenguh… Sampai akhirnya saya mengerang… Bahkan sedikit mencakar! Tentu saja kulit dia merah terkena cakaran saya. Sedikit ngilu, kata dia beberapa saat setelah itu. Lalu saya katakan, tidak sengilu perasaan saya ketika kami kembali ke dunia nyata.

Saya menatap dia. Setitik peluh mengalir turun di pelipisnya yang tangguh. Hahaha. Agaknya dia kecapekan. Peluh telah melumuri tubuh kami yang tadi menyatu bagaikan lendir di permukaan kulit cacing tanah yang liat dan akhirnya peluh itu menguap dengan perlahan, meninggalkan garam yang tak kasat mata di permukaan kulit kami. Lalu dia memeluk saya dengan erat seolah tak ingin saya pergi dari dunia kami. Saya balas memeluknya. Ya, saya juga tak ingin pergi dari dunia kita, Sayang. Kamu tahu, saya selalu ingin berada di samping kamu. Saya ingin kita tetap di sini. Seperti ini. Melintasi batas ruang dan waktu. Dengan bibir kamu yang seksi menyusuri tengkuk saya. Dengan lidah kamu yang liat di dalam mulut saya. Dengan sekerat daging kamu di dalam saya! Tentu dengan desahan kamu yang membangkitkan kebahagiaan setan-setan di setiap mikrometer komponen tubuh saya ketika saya menikmati semua itu. Saya pikir, tidak ada salahnya memberi sebuah kebahagiaan pada setan-setan itu. Haha, sebuah pembenaran yang gila!

Sayang, bagaimana kalau kamu masuk agama saya saja? Dia sudah bertanya hal ini ribuan kali pada saya. Saya bosan dengan pertanyaan ini dan selalu saya jawab dengan guyonan. Saya tidak mau menjadi domba seperti kamu. Dan tidak akan pernah, Sayang. Saya masih mencintai Tuhan saya walaupun tidak sebesar rasa cinta saya pada kamu. Walaupun sebenarnya saya tidak ingin ber-Tuhan!

 

Esoknya kami keluar kamar dengan seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Hanya ada senyum puas yang tersisa dari dunia kami yang fiktif. Waktunya kembali ke dunia nyata, kata dia. Hahaha, saya tertawa sinis. Lebih baik daripada menangis, saya pikir. Sakit rasanya. Dan malam ketika saya tidak ber-Tuhan itu pun berulang kembali dalam ribuan menit berikutnya.


(LW.
BOE. Saat guah lagi suntuk…5 PM. 19 April 2007 – Dipersembahkan untuk semua lelaki dan perempuan yang pernah mengalami hal ini. Tentu saja kau harus ber-Tuhan! Well, setidaknya di Indonesia..)

Mimpi Si Wanita yang ‘Benci’ Lelaki : Andaikan cinta seperti Futures Contract pada Pasar Derivatives

Posted in Love Stories on September 27, 2007 by leonywesvalia

 April 2007

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti sebuah seminar tentang pasar derivative. Salah satunya membahas tentang futures sebagai alternatif di pasar derivative..
( Buat kamu yang belum tahu…Menurut Wikipedia : a futures contract is a standardized contract, traded on a futures exchange, to buy or sell a certain underlying instrument at a certain date in the future, at a specified price)
Futures ini mempunyai ciri-ciri :
1. standardized agreement; perjanjian yang dilakukan mempunyai suatu bentuk standar khusus.
2. mainly for hedging/investment purpose; digunakan dalam upaya lindung nilai.
(Lindung nilai atau hedging merupakan tindak investasi untuk mengambil resiko dengan tujuan menghapus suatu resiko lain)
3. on organized exchange; bisa diperdagangkan at nonformal place.
4. ada clearing house (lembaga kliring yang mengakibatkan tidak adanya counterparty-credit risk)
5. more liquid; bisa dicairkan
6. daily market to market, bisa diperdagangkan dari satu pasar ke pasar yang lain.

Oke. Kita tidak akan membahas semuanya satu persatu.
Yang saya tekankan di sini pertama kali adalah apabila counterparties melakukan suatu bentuk perjanjian transaksi futures, perjanjian itu wajib dipenuhi! Haha. Coba anda bayangkan bila cinta bisa seperti itu, Teman! Kita bisa melakukan hedging terhadap cinta. Saya bisa memilih lelaki-masa-depan saya sekarang dan menikah sesuai tanggal jatuh tempo kontrak. Maksud saya, tentu saja saya bisa menghabiskan banyak waktu terlebih dahulu dengan banyak lelaki tanpa takut si lelaki-futures-contract akan meninggalkan saya. Karena kami sudah pasti menikah sesuai dengan standardized agreement yang telah dibuat sebelumnya. Kedua, jika cinta memiliki clearing house tentu saya tidak perlu menanggung resiko yang timbul setelah menikah sendirian saja. Hal ini juga berlaku saat saya dijodohkan (dicomblangi). Saya akan sharing risk dengan pihak lain, seperti orang tua, kerabat, atau siapapun itu. Saat saya berantem dengan suami, saya bisa membagi semuanya dengan pihak lain. Jika saya tidak malu (atau tidak punya malu).


Haha.. sebenarnya sih itu bisa-bisanya saya saja. *Kenapa, wahai wanita?* Karena menurut saya, dunia tanpa lelaki akan lebih indah. Apa karena saya sedang tidak punya pacar? Haha. Tentu tidak.  Well, sebenarnya ada sedikit perasaan takut dalam diri saya untuk mengakuinya. Mungkin karena sekarang saya sedang memasuki fase boy-is-nothing. Pacar saya yang terakhir merupakan pacar saya yang paling aargghh…. Sucks! Si lelaki ini sepertinya tidak tahan dengan ketimpangan status antara saya dengan dia dalam hal pendidikan. Saya di UI sedangkan dia di universitas saya dahulu yang tentu saja ‘kebanting’ dengan UI (walaupun itu bukan hal yang patut dibanggakan bagi saya). Saya kuliah dengan membawa mobil pribadi sedangkan dia naik angkutan umum (well, ini juga). Saya simpulkan bahwa ego para lelaki ternyata bisa membuat dia jatuh ke dalam ‘jurang’. Haha… Miris juga..
Setelah sekian lama bergaul (bukan digauli) dengan pacar-pacar saya yang tentu saja lelaki, saya mendapati bahwa waktu saya telah banyak terbuang. Tidak! Bukan waktu saja. Tenaga saya. Pikiran saya. Perasaan saya. Oh no! Betapa bodohnya saya. Cinta cuma sebuah perasaan yang membuat saya lemah! Coba Anda bayangkan…
Saya mati-matian berusaha untuk membuat pacar saya senang dengan berbagai cara seperti membuatkannya Star of Love -bintang-bintang dari lipatan kertas, coklat, kastengels, puisi, dan surprise lainnya sedangkan saya belum tentu senang dibuat olehnya. Intinya, pengorbanan saya untuk pacar saya tidak sebanding dengan pengorbanan pacar saya untuk saya! Saya mati-matian nyetir berpuluh-puluh kilometer hanya untuk bertemu pacar saya sedangkan saat itu fisik saya sangat lelah. Saya mati-matian dandan biar terlihat manis dengan tas feminin-rok mini-baju seksi (tentu saja dahulu)-plus sapuan make-up yang membuat saya merasa paling manis se-dunia saat jalan sama pacar saya sedangkan saat saya lagi jalan-jalan sendiri saya memilih untuk bersandal jepit ria dengan dandanan gothic serba hitam lengkap dengan ransel seperti gembel. Nah… Anda liat kan betapa bodohnya saya! Makanya, saya sering bermimpi andaikan cinta seperti futures contracts. Saya bisa bersenang-senang tanpa seorang lelaki sebagai pacar saya (atau dengan banyak lelaki sebagai pacar dan selingkuhan saya? ^_^) namun pada akhirnya saya akan menikah dengan lelaki yang memenuhi standar yang telah ditetapkan dalam kontrak pada waktu yang telah ditetapkan pula! Huaaahh… Cukup! Sampai di sini dahulu. Nanti saya lanjutkan kembali dengan topik mengapa-harus-ada-lelaki-di-dunia-ini. C u…

Saya Benci Orang yang Terlalu Diperbudak Cinta!

Posted in Love Stories on September 27, 2007 by leonywesvalia

Perdebatan Bodoh – 15 juli 2007

 

Saya benci orang-orang yang terlalu diperbudak cinta. Maksud saya, cinta sama pacarnya. Walaupun saya liberal. Tapi tetap saja cinta itu punya batas-batas tertentu. Tolol. Tidak bisa mikir rasional. Tidak tahu mereka kalau hidup ini tidak hanya untuk cinta sama si pacar! Aduh, kenapa sih mereka begitu bodoh.
Bullshit kalau para lelaki bilang saya-sangat-cinta-kamu atau kamu-cinta-mati saya. Taik besar. Big shit. Menurut saya cinta itu tidak selamanya kekal. Tergantung Tuhan sayang kamu atau tidak, Babe. Well, cinta itu anugrah dari Tuhan. Jadi, tidak selamanya bisa kita miliki.
Saya pernah berbicara tentang cinta beberapa hari yang lalu dengan dua orang teman saya dari BOE, lelaki dan perempuan. Si lelaki, yang baru dua kali pacaran, bertindak sebagai penengah dalam debat kali ini (tapi akhirnya dia mengolok-olok bahwa saya tidak konsisten bersama teman saya yang perempuan. Well, saya tidak peduli. Cuma saya yang paling mengerti apa yang saya pikirkan. Jadi, sebodo. Biarin mereka muntah darah ngomong semau mereka). Sedangkan si wanita sepertinya terlalu diperbudak..well, maksud saya ‘mengagungkan’ cinta. Sedang menjalin hubungan ‘serius’ dengan pacarnya.
Saya bilang prioritas hidup saya saat ini bukan untuk mencari lelaki sebagai pacar saya. Saya ingin mencapai mimpi-mimpi saya dulu. Saat ini saya hidup tidak hanya untuk cinta. Saya tidak mau pacaran dulu. Lalu si perempuan bilang, belum tentu seperti itu. Siapa tahu saya bertemu dengan pria yang saya suka lalu akhirnya pacaran. Jangan terlalu sinis memandang cinta, katanya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita nanti.
Oke. Saya tidak menutup kemungkinan itu. Tapi kau harus ingat wahai perempuan! Saya yang mengendalikan hidup saya. Bukan kamu. Bukan pula pacar saya kelak. Saya Cuma butuh koordinasi dengan Tuhan saya saja. Tidak dengan kamu, perempuan. Jadi, terserah apa pun kata kamu. Saya tidak peduli. Bisa saja saya bertemu seorang pria dan kami saling mencintai. Namun, selalu ada dua pilihan kan dalam hidup ini. Melanjutkan atau tidak melanjutkan hubungan itu. That’s the point. Jadi, bisa saja saya memilih untuk tidak melanjutkan hubungan itu. Ingat, ini hidup saya. Di atur oleh saya dan Tuhan saya.
Saya sempat bercerita pada si lelaki dan si perempuan tentang kisah cinta saya yang terakhir, a lil’ bit bitter dengan pria aneh dan psycho. Tapi, saya cerita cuma untuk kasih kamu gambaran saja. Saya benci si perempuan sok –tahu-tentang-cinta dan terlalu membanggakan pacarnya. Halah, saya benci dengan orang yang membanggakan pacarnya. Memang tidak salah. Tapi, saya cuma berpikir apakah tidak ada hal lain yang lebih bermanfaat yang bisa dilakukan? Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan tersendiri, kan?
Saya bilang,buat saya benefit pacaran harus lebih besar dari pada cost yang saya keluarkan. (dasar anak ekonomi). Tapi bukan hanya dalam hal materi. Maksud saya, kalau mencintai seseorang lebih banyak membuat kamu menderita, mending tidak usah. Ini yang saya perdebatkan dengan si perempuan. (Si lelaki parah sekali, cuma bisa mengiyakan pendapat si perempuan tanpa memberikan penjelasan yang lebih). “Ga pa pa lagi banyak menderitanya. Namanya juga pacaran. Dulu, waktu gue baru pacaran dengan pacar gue sekarang banyak kok teman gue yang menentang,” kata si perempuan menanggapi saya-dijauhi-teman-teman-karena-pacaran-deng’an-si-X. Ya itu si oke-oke aja, gals. “Bagi gue, pacaran oke-oke aja walopun lebih banyak menderitanya,” tambah si perempuan.

Nah…Di sini letak tidak rasionalnya. Terlalu diperbudak cinta! Sampai-sampai terkadang tidak memperhatikan kebahagiaannya sendiri. Ini gila. Harus dihentikan yang begini ini. Saya katakan, saya tidak anti terhadap cinta, saya cuma punya batas-batas tersendiri tentang cinta. Saya tidak akan membiarkan hidup saya menderita cuma untuk membahagiakan pacar saya kelak (Well, sebenarnya saya tidak yakin apakah saya akan pacaran lagi). Inilah yang membedakan saya dengan si perempuan. Si perempuan sepertinya sudah berkorban banyak sekali untuk pacarnya. Kasihan dia.
Mungkin saya langsung nikah saja nanti, kata saya. “Gak bisa gitu kayaknya. Masak lo nikah dengan orang yang gak lo kenal, kecuali lo jadi orang-orang jilbab gede yang lebih milih ta’aruf” kata si perempuan. Ya ampun… Picik sekali dia. Memang orang yang jilbab besar saja yang bisa taaruf? Tiap orang juga bisa. Lo bisa mengenal seseorang tanpa harus terikat komitmen berlabel ‘pacaran’ kan? Ini masalah pilihan hidup saja. Apa mau pacaran atau tidak. Tergantung niatnya saja semuanya.
Saya sempat mengatakan sesuatu yang mungkin membuat bingung kedua teman saya. Akhirnya menyebabkan saya dikatakan tidak konsisten oleh kedua teman saya tersebut. Saya bilang sama si lelaki, ada baiknya kamu pacaran terlebih dahulu, mengenal banyak wanita lalu baru menikah. Lalu, kedua teman saya langsung mencap saya tidak konsisten. Well, saya menyuruh kamu pacaran tapi ini tidak berlaku untuk saya. Saya menyarankan sesuatu untuk orang lain, bukan berarti saran tersebut baik untuk saya, bukan?? Ini saya katakan hanya untuk si lelaki. Kenapa? Karena tiap orang berbeda. Apalagi dari segi prioritas hidup. Saya sudah sampai pada titik jenuh pacaran saat ini. Jadi, mungkin lebih baik saya off dulu dari hal-hal berbau cinta. Tapi terserah mereka saja. Saya tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Cuma omong kosong dua orang teman saya saja. Gak penting. Memang saya peduli?
Jadi intinya, saya tetap tidak suka dengan orang-orang yang terlalu diperbudak cinta.