Wishing on A Shooting Star

Posted in My Life on July 13, 2011 by leonywesvalia
 
 

Wishing on a Shooting Star

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
  
 
The dreams seem so near to me now…
 
Closer.
And closer.
And closer…
 
Maybe they flow in my blood.
Or maybe exist in my breath.
 
And I swear, I will struggle to make them real.

Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan

Posted in Uncategorized on September 7, 2010 by leonywesvalia

Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan. Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain. Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati. Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soe- harto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan. Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu ”Bersama Kita Bisa” (2004) dan ”Lanjutkan” (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional. Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat justitia pereat mundus—hendaklah hukum ditegakkan—walaupun dunia harus binasa (Ferdinand I, 1503- 1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan. Quid leges sine moribus (Roma)—apa artinya hukum jika tak disertai moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas? Keberanian Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan. Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek kepentingan keselamatan di luar diri pemimpin—kepentingan rakyat—keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri. Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin yang dulu pernah memimpinnya. Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul terbebas dari korupsi? Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya? Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela). Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu kepemimpinannya—dengan jargon reformasi gelombang kedua—SBY bisa memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini.

Adjie Suradji Anggota TNI AU

belum sempet baca dan berkomentar, jadi saya copast dulu utk keep ini tulisan :)

copast dari: http://cetak.kompas.com/read/2010/09/06/03101393/pemimpin.keberanian.dan.perubahan

Sudahkan Negara Indonesia Ini Merdeka?

Posted in My Indonesia, My Thoughts on August 19, 2010 by leonywesvalia

Ini uneg-uneg saya rasakan tepat pada tanggal 17 Agustus 2010. Iya, sewaktu negara Indonesia ini ulang tahun. Berawal dari ramainya twitter, facebook, BBM, dan media sosial dengan ucapan bangga dan harapan tentang Indonesia dari orang yang sok nasionalis, serta hujatan, kritikan, dan sumpah serapah dari orang yang “benci tapi cinta” dengannya. Termasuk saya. Jika tahun lalu saya hampir menangis terharu eh, atau sudah menangis ya? karena melihat para WNA yang begitu cinta pada Indonesia di Kick Andy sedangkan saya masih ya-gitu-deh, tahun ini saya malah skeptis. Mungkin otak saya sudah kebalik-balik ini. Well, move on. Ini tidak penting dibahas. :D

Saya merasa ada yang mengganjal tentang kemerdekaan yang sedang populer dibicarakan masyarakat saat ini. Yaitu pada masalah keagamaan. Oke, saya memang beragama Islam. Saya selalu berusaha menjalankan ajaran agama saya walaupun sampai saat ini begitu banyak hal yang saya pertanyakan. Karena saya BUTUH agama. Namun saya juga pribadi yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, terutama dalam hal kebebasan.

Pada Pancasila sila 1 tercantum bahwa “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Sedangkan pada pasal 29 UUD 45 tercantum bahwa:

Ayat ” (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa“. Ayat (2) berbunyi, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu“.

Pertanyaan saya, lalu bagaimana dengan orang yang berada di luar enam agama yang diakui di Indonesia? Kenapa mereka harus dipaksa untuk memilih salah satu dari keenam agama itu untuk dicantumkan di Kartu Tanda Penduduk (KTP)? Kenapa negara hanya menjamin kemerdekaan untuk orang yang beragama saja? Seharusnya orang yang tidak beragama sekalipun dijamin kemerdekaannya. Yaitu dengan jalan membebaskan mereka untuk tidak mengisi kolom “agama” di KTP mereka. Memang benar negara Indonesia ini diperjuangkan oleh orang-orang yang beragama. Namun tidak lantas hal ini membuat semua orang diwajibkan untuk memiliki agama atau memilih salah satu dari keenam agama tersebut, bukan? Hellooo! Ada apa dengan hak asasi manusia di Indonesia?

Agama memang dapat dijadikan pondasi dan tuntunan dalam kehidupan seseorang. Namun, tidak ada jaminan bahwa orang yang beragama itu akan baik tingkah lakunya. Bahkan, kelompok yang mengatasnamakan diri mereka sebagai Pembela Islam saja tidak mampu mencerminkan pribadi dan tingkah laku yang baik sebagai seorang Muslim. Semua kembali pada daya pikir otak masing-masing, bukan? Otak yang “benar”, perilakunya pasti “baik”, terlepas dia beragama atau tidak.

Lia Eden

Lalu kenapa orang ini ditangkap?

Dia cuma meyakini kepercayaannya. Selama kepercayaannya itu tidak melanggar hukum yang berlaku menurut saya hal ini sah-sah saja. Toh, kita sebagai manusia dilengkapi dengan akal untuk memilih mana yang baik atau tidak baik.

Kapan ya negara saya ini merdeka seutuhnya? Bahkan untuk hal prinsipil seperti agama sekalipun, Indonesia belum merdeka. Begitu banyak pekerjaan-pekerjaan yang harus dibereskan untuk mewujudkan kemerdekaan seutuhnya. At least, mendekati seutuhnya karena memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Well, bagaimanapun juga… Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 65! Semoga kamu berhasil membuat saya ingin menjadi warga negara yang baik dan benar.

Quelqu’un M’a Dit – Carla Bruni

Posted in Songs on August 18, 2010 by leonywesvalia

Carla Bruni. Here, she is.

The lyrics:

On me dit que nos vies ne valent pas grand chose,
Elles passent en un instant comme fanent les roses.
On me dit que le temps qui glisse est un salaud que de nos chagrins il s’en fait des manteaux pourtant quelqu’un m’a dit…

Refrain
Que tu m’aimais encore,
C’est quelqu’un qui m’a dit que tu m’aimais encore.
Serais ce possible alors ?

On me dit que le destin se moque bien de nous
Qu’il ne nous donne rien et qu’il nous promet tout
Parais qu’le bonheur est à portée de main,
Alors on tend la main et on se retrouve fou
Pourtant quelqu’un m’a dit …

Refrain

Mais qui est ce qui m’a dit que toujours tu m’aimais?
Je ne me souviens plus c’était tard dans la nuit,
J’entend encore la voix, mais je ne vois plus les traits
“Il vous aime, c’est secret, lui dites pas que j’vous l’ai dit”
Tu vois quelqu’un m’a dit…

Que tu m’aimais encore, me l’a t’on vraiment dit…
Que tu m’aimais encore, serais ce possible alors ?

On me dit que nos vies ne valent pas grand chose,
Elles passent en un instant comme fanent les roses
On me dit que le temps qui glisse est un salaud
Que de nos tristesses il s’en fait des manteaux,
Pourtant quelqu’un m’a dit que…

Refrain

Translation:

I am told that our lives are not worth much,
They pass in an instant as roses fade.
They say that time is slipping a perversion of our sorrows, he made coats Yet someone told me …

Refrain
That you still love
Someone told me that you still love me.
Could that be possible?

They tell me that destiny makes fun of us
That gives us nothing and promises everything we
Seem that happiness is within reach,
So we reach out, and we find ourselves crazy
But someone told me …

Refrain

But who is it that told me that you still love me?
I do remember it was late at night,
I still hear the voice, but I do not see the face
“He loves you, its secret and not tell him that j’vous have said”
You see someone told me …

That you still love me someone truly said …
That you still loved me, would this be so?

I am told that our lives are not worth much,
They pass in an instant as roses fade
I am told that the time slips is a bastard
What our sorrows, he is making coats,
But someone told me that …

Refrain

I think it’s one of the sexiest songs ever :)

I’m BACK!

Posted in My Life on November 26, 2008 by leonywesvalia

I’m BACK!!!

Setelah sekian lama tidak menulis, saya merasa otak saya menjadi tumpul, hilang dari masyarakat, hilang dari sejarah…Sekarang saya akan kembali menulis!

Jadi, nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya. ciao!

di…..
leonypunyacerita.blogspot.com….
hehehehe…

Am I A Capitalist?

Posted in My Thoughts on April 5, 2008 by leonywesvalia

I'm not that person!

-I’m not that person!-

Apakah saya seorang kapitalis? Pertanyaan ini sering mengusik saya dulu. Tapi sekarang tidak.

Teori saya, mau tidak mau seseorang harus menjadi kapitalis untuk dapat survive. So, bullshit saja jika ada orang yang mengatakan dia tidak kapitalis. Jauh di bawah sadar kamu semua, manusia mau tidak mau harus menjadi kapitalis untuk dapat bertahan hidup. Saya tidak percaya ada orang yang mengatakan saya idealis memperjuangkan “poor people”. Kamu baru bisa memperjuangkan mereka ketika kebutuhan kamu telah terpenuhi dengan kapitalis yang ada dalam diri kamu.

Dahulu ketika saya bergabung di BEM UI, saya merasa saya menjadi seseorang yang sangat idealis. Segala-galanya saya pikirkan “demi kepentingan bersama”. Ya, saya menganut utilitarian tentu ketika itu. Namun, ketika masa kepengurusan BEM berakhir, entah karena tidak lagi di BEM entah karena saya mulai melihat “kejamnya” dunia luar, idealisme bagi saya saat ini bukan sesuatu hal yang membanggakan. Idealisme seperti itu tidak dapat membuat keluarga saya makan dengan kenyang, tidur dengan selimut hangat, dan tinggal di rumah yang layak!

Saya tidak tahu apakah pikiran saya yang seperti ini dipengaruhi oleh kehidupan kampus FE UI yang sangat kapitalis dan menjunjung tinggi individualisme. Memang, sebagian besar buku kuliah saya adalah buku Amerika yang liberal dan kami diajarkan bahwa tujuan perusahaan adalah “maximizing shareholder wealth”. Bukan “demi kepentingan publik/masyarakat/negara”.

Saya sering sekali melihat teman-teman saya yang “IDEALIS” berbicara tentang kemiskinan,-pengangguran – pemerintahan yang bobrok, ikut demonstrasi, ikut seminar pergerakan dan kongres ini-itu, dan sejenisnya terkadang hanya untuk merasa bahwa ia “berbeda”. Maksud saya, biar terlihat keren, bahasa kasarnya. Saya lihat sebagian besar dari mereka tinggi hati, “Gue tahu yang lu tidak tahu”. Ada perasaan superior dibandingkan teman-teman yang lain. Saya sih cuma maklum saja karena saya telah melalui masa-masa seperti itu. Saya cuma berharap “idealisme” mereka mbok ya dipertahankan saja. Jangan sampai ketika telah mencoba “uang” di dunia post-mahasiswa nanti, mereka malah menjadi musuh yang dahulu mereka demo. Bidang politik memang lahan yang bejat! Saya benci dengan kelicikan dan kepura-puraan yang ada padanya. Saya juga sangat benci pada orang yang ternyata mempergunakan apa-yang-mereka-sebut-idealis untuk mencapai untuk mencapai tujuan pribadinya. Munafik. Sok suci padahal sangat bejat.

In conclusion, according to me, idealism is just a bullshit! Kamu yang idealis pasti kamu yang kebutuhan untuk survivenya telah terpenuhi. Makanya kamu bisa “memperjuangkan” kepentingan orang lain. Harus diingat, kamu bekerja tidak hanya untukmu sendiri. Kamu punya keluarga yang harus kamu support. Mungkin dari tadi kamu menyimpulkan saya tidak punya hati. Tidak kok, saya punya hati. Saya cuma berpikir, saya memiliki tanggung jawab pada orang tua saya dan adik-adik saya. Juga pada Pencipta saya. Saya cuma heran, ada teman saya yang menjadi ketua HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) namun kuliahnya terbengkalai. Tidak ingat dengan tanggung jawabnya pada orang tua-kah? Semua orang punya prioritas. Prioritas saya, membalas jasa orang tua saya. Setelah saya memenuhi tanggung jawab pada orang tua saya, barulah saya membantu si “tak berpunya” nanti. Yang jelas, saya bukan si idealis yang sok suci!

Harga Minyak Dunia and Its Impacts

Posted in My Indonesia on November 29, 2007 by leonywesvalia

Gila! Benar-benar gila! Harga minyak dunia diperkirakan tidak lama lagi akan menembus angka tiga digit.

Kuliah asistensi Perekonomian Indonesia (PI)…Tidak ada model perekonomian yang mampu memprediksi pergerakan harga minyak dunia. Itu yang dikatakan oleh asisten dosen PI saya, Gaffari Ramadhan, pada suatu asistensi. Semua itu hanya motif coba-coba  dari negara-negara Timur Tengah. Pada mulanya, harga minyak dunia naik dari sekitar $ 20-an perbarel. Lalu, negara-negara Timur Tengah coba-coba menaikkan harga minyak sampai $ 50 per barel. Ternyata kenaikan ini tidak memberikan efek pada perekonomian dunia. Everything goes well. Akhirnya mereka menaikkan lagi harga minyak dunia sampai terakhir saya baca mencapai $ 99 per barel.

Emerging Market

Naiknya harga minyak dunia secara signifikan ini dimulai karena “ulah” China dan India yang mengalami emerging market. Emerging market merupakan suatu kondisi di mana pasar mengalami pertumbuhan dengan sangat pesat. Pertumbuhan yang pesat ini dipengaruhi oleh meningkatnya produksi sektor industri yang sangat besar dalam waktu yang singkat. Meningkatnya produksi berarti ada peningkatan dalam faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi, baik itu human capital seperti jumlah dan skill pekerja maupun physical capital seperti bahan baku produksi, dalam hal ini minyak bumi. Sayangnya, peningkatan permintaan terhadap minyak ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi minyak dunia. Dalam ilmu ekonomi, apabila jumlah permintaan terhadap suatu barang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penawarannya, akan terjadi kelangkaan (scarcity). Kelangkaan suatu barang atau jasa menyebabkan harga barang atau jasa itu mengalami kenaikan. Begitulah yang terjadi dengan harga minyak dunia.

 

Prediksi IMF

IMF (Dana Moneter Internasional) memprediksikan pertumbuhan ekonomi global tahun 2008 sebesar 5,2 persen, lalu diturunkan menjadi 4,8 persen. Sebelumnya, IMF dalam World Economic Outlook oktober 2007 menyebutkan bahwa perekonomian AS yang semula diproyeksikan tumbuh 2,8 persen direvisi jadi 1,9 persen. Sedangkan pertumbuhan perekonomian zona Eropa yang semula diproyeksikan 2,5 persen turun menjadi 2,5 persen. Pertumbuhan ekonomi global yang menurun ini bermula dari kasus subprime mortgage di US. Subprime mortgage merupakan kredit perumahan yang diberikan pada golongan masyarakat menengah ke bawah. Ceritanya, kredit perumahan tersebut disekuritisasi menjadi CDO atau collateral debt obligation dan diperdagangkan di pasar derivatif. Kemelut berawal dari ketidakmampuan masyarakat golongan menengah ke bawah tersebut dalam membayar kredit perumahannya.  Karena mengalami proses sekuritisasi, maka krisis likuiditas yang terjadi lebih gawat lagi. Tidak hanya mortgage saja, namun juga CDO-nya. Akibatnya, tingkat likuiditas perbankan US menjadi rendah. Untuk menutupi hal ini, US harus menarik cadangan likuiditas  keuangannya dari pasar dunia. Inilah yang membuat perekonomian dunia menjadi melambat dan membuat US terpaksa menurunkan suku bunganya menjadi 4,5% (terakhir kali saya baca).

Perekonomian Indonesia

28 November 2007 – Kuliah Perekonomian Indonesia dengan Faisal Basri.

He is really amazing, inspiring! Ini nih yang dibahas…

Indonesia yang mempunyai banyak cadangan minyak pun di buat tak berkutik. Yup, kita memang salah satu negara yang bodoh. Masih saja mau masuk OPEC. Apa si yang kita dapatkan dengan join dengan OPEC? Kita tidak bisa menjual harga minyak kita sesuai dengan keinginan kita, padahal kualitas minyak kita tergolong sangat bagus di dunia karena kandungan oktannya yang rendah. Semua ini gara-gara Indonesia yang goblok! (Gaffari dan Faisal Basri juga sependapat akan hal ini). Indonesia masih mengimpor minyak mentah dari luar negeri yang kualitas minyaknya buruk. Selain karena lifting minyak kita yang tidak mencukupi, kualitas minyak kita tersebut akan sia-sia bila kita memakai minyak produksi dalam negeri saja. Makanya kita masih mengimpor minyak mentah dari luar negeri.

Menurut saya, keterlibatan Indonesia dalam OPEC  ini tidak terlepas dari unsur politik. Indonesia masih mengharapkan insentif dari keterikatannya dengan OPEC. Tidak yakin dengan kemampuan sendiri. Tidak mandiri! Well, sepertinya Indonesia harus berpikir lagi, dan lagi..Dari sisi ekonomi, jika benefit yang didapatkan dari melakukan sesuatu lebih sedikit dibandingkan dari cost yang dikeluarkan, maka lebih baik sesuatu itu tidak dilakukan. Mungkin di sini letak permasalahannya. Tidak semua orang mempunyai parameter atau variabel yang sama dalam mengukur hubungan cost-benefit ini. Bisa juga karena ada unsur “oknum” yang bermain di dalamnya. Oknum yang hanya memikirkan kepentingan pribadi, bukan kepentingan rakyat, bangsa atau negara. Gak tau apa Indonesia mau semaput?

Next… Cost of production PERTAMINA. Biaya yang diperlukan untuk mengambil 1 barrel minyak dari perut bumi adalah sekitar $ 27. Sedangkan perusahaan minyak lain biasanya adalah sekitar $9. Nah, ada beberapa skenario menurut saya. Pertama, teknologi Indonesia masih belum secanggih perusahaan lain tersebut. Tapi saya sebenarnya tidak yakin dengan skenario ini seratus persen. Kalaulah teknologi yang digunakan agak ketinggalan zaman, seharusnya selisih cost tersebut tidak jauh seperti ini. Bayangkan, tiga kali lipat! Kedua (ini menurut Faisal Basri), PERTAMINA adalah ladang korupsi. Biaya produksi dikorupsi oleh “tikus-tikus” tertentu yang tidak bertanggung jawab. Well, sebenarnya saya masih meragukan hipotesis Bang Faisal ini si.. Solusi cerdas dari si Abang, “ Kenapa gak bangun kilang minyak saja?”. “Ini pun ada kendalanya,” ujar si Abang kemudian, “Indonesia ini masih dikuasai oleh orang-orang yang busuk, antek-antek Soeharto dan oknum lainnya. Mereka punya kapal tanker yang dibutuhkan Indonesia untuk lalu lintas ekspor-impor minyak. Bayangkan kalau kilang minyak dibangun, maka lalu lintas tersebut akan menurun dan menyebabkan menurunnya pendapatan bagi mereka.”

Masih soal PERTAMINA. Bagaimana lifting minyak tidak bakalan turun jika yang produksi di dalam negeri cuma PERTAMINA mulu?! Ini salahnya pemerintah! Eksplorasi minyak di Indonesia tergolong TIDAK MENARIK. Semuanya karena CPS (Construction Production Sharing) di Indonesia 85:15. Maksudnya, jika ada pihak asing yang ingin mengeksplor minyak di Indonesia, mereka harus berbagi keuntungannya dengan porsi: 85 persen untuk pemerintah dan 15 persen untuk pihak asing tersebut. Sangat TIDAK MENARIK.

Haha.. Bobrok sekali Indonesia ini.

Move on dari si Abang…

Sekarang, APBN Indonesia 2007 membengkak. Begitu pula dengan RAPBN 2008. Semua ini tentu saja oleh harga minyak dunia yang naik gila-gilaan. Awalnya, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak $60 per barrel dalam RAPBN 2008. Tentu saja ini NOL BESAR. Tidak mungkin harga minyak dunia kembali ke kepala enam. Lalu direvisi jadi $100 per barrel kemarin ini. Untung saja direvisi. Saya melihat pemerintah terlalu optimis, bahkan sangat tidak masuk akal, jika tetap mempertahankan asumsi harga minyak sebesar $60 per barrel.

Inflasi diperkirakan 6,4-6,7 persen pada tahun 2008. Jauh dari prediksi pemerintah yang hanya sebesar 6,3 persen. Memang, sepertinya Inflation Targetting Framework (ITF) yang menargetkan inflasi 2008 sebesar +/- 5 tidak akan tercapai. ITF tahun 2008 tetap +/- 6. Kurs rupiah terhadap US Dollar ditargetkan sebesar Rp 9.050 pada APBN 2008. Memang, kurs rupiah saat ini masih di kisaran Rp 9.300 – Rp 9.400 per US Dollar. Untuk tahun-tahun ke depan, fakta menunjukkan bahwa investor asing menganggap Indonesia masih berprospek. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya penjualan obigasi pemerintah jangka panjang seri FR.

Nogmong-ngomong tentang pemerintah, sepertinya pemerintahan SBY sekarang terlalu menjaga image. Sudah jelas harga minyak dunia melambung tinggi seperti ini, harga BBM tidak juga dinaikkan. Benar, HARGA BBM TIDAK AKAN NAIK SAMPAI 2009, ini janji SBY pada rakyat Indonesia. Waduh, mas.. Kalo berjanji mikir dulu, toh..Jangan cuma mikirin kepentingan pribadi..

(Pihak mana yang diuntungkan dengan harga BBM yang murah? Pertama, pihak penyelundup minyak. Mereka memanfaatkan arbitrase dalam hal ini. Beli BBM di Indonesia murah, lalu menjual di luar negeri dengan harga mahal. Benar-benar culas! Kedua, pihak the HAVE yang biasanya memakai mobil untuk bepergian. Dari sisi ekonomi, seharusnya mereka pay more! Mereka semakin mendorong kemacetan, polusi udara, dan global warming, khususnya di daerah Jakarta. Mereka harus membayar biaya lebih karena eksternalitas negatif yang mereka timbulkan. Solusinya, naikkan saja pajak kendaraan bermotor atau buat lebih macet lagi!! Hehe, mampus.. Tetapi jika dilihat dari sisi kesetaraan harkat dan martabat sebagai manusia, hal ini juga tidak bisa dibenarkan karena mereka juga bagian dari bangsa Indonesia walaupun mereka tidak miskin. Yah… Menurut saya, lebih baik berpikir pakai hati. Melihat realita yang ada yang ada di sekitar mereka saja. Semakin lama bumi semakin panas karena perbuatan mereka. Iya, namanya pemanasan global atau lebih dikenal dengan global warming. Penyebabnya adalah pemakaian kendaraan bermotor secara berlebihan, pemakaian AC – parfum yang mengandung CFC, tidak hemat listrik, dan lainnya.)

Saya melihat dalam hal ini ada unsur politisnya. Mungkin SBY mau maju lagi pada pemilihan presiden 2009 nanti. Jadi, harus jaga image dulu, seolah-olah berpihak pada rakyat. Padahal, dari sisi ekonomi, harga BBM yang tetap Rp 4.500 per liter ini sangat merugikan negara, menguntungkan beberapa pihak. Walhasil, pemerintah pasti defisit lagi tahun 2008 (Bukannya mendoakan, tapi inilah kenyataannya). Ujung-ujungnya, pemerintah mengeluarkan obligasi ORI, SUN, atau SPN lagi untuk mendapatkan dana guna menutupi defisit anggaran. Gali lubang, tutup lubang.. Lebih baik, SBY lebih realistis saja memandang Indonesia saat ini. Naikkan saja BBM, tapi imbangi dengan usaha memakmurkan rakyat miskin di Indonesia. jangan lewat subsidi langsung seperti dahulu. Tidak efektif, ladang korupsi. Lebih baik membangun sekolah-sekolah keterampilan untuk meningkatkan kemampuan rakyat miskin. Atau mempertahankan dan meningkatkan apa yang sudah dilakukan sekarang yaitu membuka TBM (taman baca masyarakat) dan program buku teks untuk sekolah, agar menciptakan manusia-manusia yang unggul dan mampu bersaing.

DPR: Dewan Perwakilan Rubah!

Posted in My Indonesia on November 20, 2007 by leonywesvalia

Saya tidak habis pikir. Kenapa anggota DEWAN TERHORMAT kita di Indonesia, DPR, tidak memikirkan kesejahteraan rakyat. Banyak sekali hal-hal yang menurut saya dilakukan karena TERLENA akan posisi dan kedudukannya sebagai anggota dewan yang terhormat itu.

Baru saja tadi pagi saya dengar bahwa DPR akan membahas RUU (baca: rapat RUU) Pemilu di hotel. Sekali lagi, HOTEL! Apa yang mereka pikirkan?? Seperti tidak pernah nginap di hotel saja. Tentu saja pakai UANG RAKYAT! Haduh… Di mana hati nurani mereka sebagai, katanya, wakil rakyat tetapi malah menggerogoti hak rakyat! Gemas saya mendengar berita, lagi-lagi tentang DPR yang tidak bermoral, tidak berprikemanusiaan. Flash back… Kemarin dulu, mereka si wakil rakyat itu jalan-jalan ke luar negeri seenak jidatnya. Katanya, studi banding. Tapi menurut saya, itu tamasya bersama. Memang negara Indonesia segitu terbelakangnya, sampai-sampai di sini tidak ada teknologi internet, telepon, dan apapun itu alat komunikasi jarak jauh?? Sepertinya kebutuhan akan tamasya menjadi kebutuhan primer bagi mereka. Sama seperti jika mereka tidak makan atau tidak berpakaian. Menurut saya, orang miskin yang kesulitan makan dan orang gila yang tidak berpakaian pun lebih bermoral dari pada mereka.

Belum lagi kasus aliran dana dari BI ke DPR yang mencapai milyaran rupiah. Kata Gaffari Ramadhan, asisten dosen Perekonomian Indonesia saya, transfer dana itu istilahnya sebagai uang pelicin agar urusan BI cepat selesai. JIka tidak dibayarkan, urusan BI akan sangat lama selesainya, bahkan tidak dikerjakan oleh mereka. Lalu saya tanya dia, apakah itu diatur di UU? Apakah itu sah menurut hukum? Ternya tidak, Saudaraku. Tidak ada satu UU pun yang membahas bahwa UANG PELICIN tersebut ada di dalamnya! Lantas, salahnya di mana? Apa ada di orang-orang BI yang bego’ mau membayar uang pelicin tersebut. Atau di DPR yang tidak mau bekerja jika tidak ada uang pelicin? Menurut saya, DUA-DUAnya sama salahnya dalam kasus ini. BI bego’ dan sok kaya… DPR(ubah)… Binatang…

rubah.jpg

Coba cari persamaannya?

anggota-dpr.jpg

Back to the hotel…..

Memang MORAL dan RASA MALU merupakan sesuatu yang sangat EKSKLUSIF harganya di Indonesia. Apalagi di gedung Panekuk Kembar di Senayan itu. Alasan mereka, jika rapat di Senayan itu TIDAK EFEKTIF karena ribut dan banyak anggota rapat yang terlambat datang karena KEMACETAN di Jakarta. Wow, wow, WOW!! What a surprise ya?? Lalu, untuk apa gedung panekuk kembar itu di bangun? Sebagai simbol saja, menurut saya. Simbol bahwa kita punya gedung DPR MPR, yang spertinya lebih efektif jika digunakan untuk demonstrasi mahasiswa daripada untuk membahas urusan negara. Simbol bahwa kita itu negara loohh..

TERLAMBAT datang rapat. Please deh, Anda-Anda di Panekuk Kembar lebih rendah dibandingkan anak TK (taman kanak-kanak) dalam soal disiplin. Apa Anda semua sebaiknya kembali ke TK saja ya?? Tentu saja, Anda bisa memperkirakan waktu perjalanan (termasuk kemacetan. Memang, pembangunan jalan raya di Jakarta menjadi minus sejak pembangunan jalan Bus Way mengambil jatah jalan raya biasa) agar tidak terlambat datang rapat. Saya yakin, Anda semua bisa melakukannya dengan baik!

Hal yang miris sekali, sepertinya kebudayaan” terlambat datang” telah dipupuk sejak menjadi mahasiswa. Di kampus saya, UI, HAMPIR semua rapat maupun acara selalu telat. Ini terjadi di mana-mana, termasuk di BEM UI.

Kenyataannya, rapat di hotel tersebut tidak benar-benar efektif dilakukan karena tidak semua anggotanya menginap di hotel tersebut. Ada yang pulang ke rumahnya dan terlambat lagi besok paginya. Bagaimana ini dibiarkan terjadi, Saudaraku sebangsa setanah air?? Berapa lagi uang rakyat yang digunakan untuk hal-hal yang TIDAK PENTING dan TIDAK PERLU oleh DPR? Siapa yang bisa menghentikan ini?? Sadarlah, anggota dewan yang terhormat.. Anda dipilih dan digaji oleh uang rakyat! Seharusnya anda memikirkan kepentingan rakyat! Bukan KEPENTINGAN ANDA. Gak ingat apa, kalau akhirat itu ada? Well, bukan akhirat. Gak ingat apa, kalau neraka itu ada?

Tulisan Saya vs Tulisan Teman Saya 2

Posted in My Thoughts on November 5, 2007 by leonywesvalia

And this is my article…

Eksternalitas Negatif Bulan Ramadhan?

Assalamualaikum W.W

                   Pertama, saya ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi seluruh warga FE UI, khususnya, yang menunaikannya. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT. Amin ya Rabbal Alamin.

                   Let’s move on..

                   Picik. Itu kata pertama yang keluar dari mulut saya melihat tulisan Saudara Armand tentang Islam “di dalam pikirannya”. Berani men-judge sesuatu tanpa mendalaminya (atau sekedar berkonsultasi) terlebih dahulu. Memang, persoalan mengenai agama tidak akan pernah tuntas dibahas.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” (QS Al-Israa’ : 36)

Eksternalitas Negatif?

                   Perihal warung atau tempat makan yang ditutup gorden di bulan puasa. Apakah hal ini memberikan suatu eksternalitas negatif terhadap pihak ketiga? Jawabannya memang relatif. Tergantung tingkat toleransi kita terhadap umat beragama lain (walaupun Islam tidak mengakui adanya agama lain). Mungkin banyak pihak (baca: mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa )yang tidak terlalu senang dengan kondisi ini.

                   Seperti Saudara Armand ini. Wajar saja ia merasa resah menghadapi bulan Ramadhan. Ini adalah wajar..

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu…” (QS Ali Imran; 151)

Menurut saya, ini bukanlah suatu eksternalitas negatif! Ini bagian dari toleransi terhadap umat beragama lain. Saya setuju bahwa toleransi memang bukanlah sesuatu hal yang untuk dipaksakan. Islam sendiri bukanlah agama yang penuh keterpaksaan!

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam…” (QS Al Baqarah; 256)

Ini menyangkut hak. Kita harus ingat, hak kita terhadap sesuatu juga dibatasi oleh hak orang lain. Jadi, kita tidak bisa menuntut hak kita secara penuh. Egois sekali mereka yang terlalu menuntut hak tanpa menimbang hak orang lain di dalamnya?

                   Alternatif gorden sebagai penutup tempat makan menurut saya sudah tepat. Ini merupakan jalan tengah dari konflik kepentingan dan hak umat beragama. Yang saya bingungkan, apakah ada tidaknya gorden yang menutupi warung itu berkorelasi dengan nafsu makan seseorang? (Memang gorden penting, ya?) Apakah dengan adanya gorden tersebut menyebabkan mereka menjadi tidak nafsu makan? Kalau ingin makan, ya makan saja.. (Gitu aja kok repot!) Lantas, apa yang salah dengan gorden-gorden tersebut? Oke. Pertanyaan yang lebih tepat adalah seperti ini, bagaimana dengan orang-orang yang berpuasa pada bulan lain selain Ramadhan, di mana warung atau tempat makan buka secara bebas? Ada alasan logis di balik semua ini. Tidak semua orang berpuasa pada hari tersebut sedangkan pada bulan Ramadhan semua umat Islam diwajibkan berpuasa tanpa terkecuali. Tentu saja ini merupakan dua hal yang berbeda. Bulan Ramadhan ini merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, di mana pahala-pahala dilipatgandakan oleh Allah SWT. Jadi, tidak ada salahnya jika umat agama Islam ingin menjalankan ibadahnya secara optimal dan dengan sebaik-baiknya. Jadi intinya, hal ini merupakan bagian dari toleransi antarumat beragama.

                   Saya sendiri termasuk orang yang tidak terlalu mempermasalahkan adanya restoran atau warung yang buka pada bulan Ramadhan karena saya memakai prinsip lokus internal. Karena puasa itu tidak hanya menyangkut menahan nafsu ingin makan saja. Ia menyangkut menahan diri dari nafsu dan perbuatan yang membatalkan puasa. Menahan diri lahir dan batin. Jadi, saya lebih fokus pada bagaimana-saya-bisa-menahan-diri-dari-segala-hal-yang-membatalkan-atau-merusak-pahala-puasa.

FPI: Front Pembela Islam

“Pokok segala sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah…” (HR Muslim)

Kasus FPI. Dalam kasus ini, saya sangat menyayangkan perbuatan FPI yang menghancurkan warung dan tempat makan karena buka di bulan Ramadhan. Ini merupakan suatu bentuk hal yang anarkis dan berlebihan. Agama Islam sendiri bukanlah agama yang menghalalkan kekerasan seperti ini. Lagipula Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Memang benar, semua umat Islam memang ingin “menarik perhatian” Allah. Namun, tentu saja dengan cara meniru akhlak Nabi Muhamad SAW dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Jadi, lebih pada hubungan batin antara manusia dengan pencipta-Nya. Tidak dengan cara pemaksaan dan kekerasan, apalagi melakukan hal-hal yang anarkis seperti pemusnahan warung dan tempat makan. Terlalu picik jika kita mengambil stereotip perbuatan FPI sebagai perbuatan umat Islam secara keseluruhan.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Baqarah; 190)

                   Menurut saya, FPI telah salah tafsir terhadap ayat di atas (ternyata ayat-ayat Al-Quran yang memakai bahasa universal di seluruh dunia saja dapat memberi tafsiran yang berbeda-beda bagi umat Islam itu sendiri). “Perang” tidak hanya menyangkut hubungan kita dengan orang lain namun juga antara akal pikiran dan perasaan kita – sejauh mana kita bisa melawan hawa nafsu dalam diri kita sendiri. Perang merupakan jalan terakhir yang ditempuh dan perang diperbolehkan adalah perang demi membela agama Islam dalam keadaan benar-benar terpaksa. Bukan dalam keadaan tenang seperti keadaan sekarang ini, bukan dalam kasus ini! Seharusnya, mereka dapat bertindak lebih bijaksana dan menimbang terlebih dahulu manfaat-mudharat dari perbuatan mereka itu.

Soal Eksistensial

                   Persoalan eksistensial pada kasus FPI berkaitan dengan prinsip eksistensial Socrates. Jika kita mengerti inti sebenarnya ayat di atas secara eksistensial maka penghancuran tersebut tidak perlu terjadi. Jadi, ini merupakan pelajaran juga bagi umat Islam. Pelajarilah dahulu ayat Al-Quran (yang dijadikan pegangan dalam berbuat) secara mendalam sebelum berbuat agar tidak sesat kemudian!

                   Eksistensi sosial memang dapat mempengaruhi eksistensi individu (by Marx). Namun, manusia sebagai makhluk dengan hegemoni intelektual seharusnya bisa berpikir tentang hal yang terbaik untuk diri sendiri dan lingkungannya terlepas dari struktur masyarakat tempat ia berada. Terlepas dari pikiran-pikiran yang didoktrin oleh kelompok-kelompok tertentu. Terlepas dari etika otonom, etika yang menekankan manusia sebagai individu yang sanggup menentukan hukum atau kaidahnya sendiri.

Wassalamualaikum W.W

-Leony Wesvalia-

Anggota Divisi Penerbitan Badan Otonom Economica FEUI

Tulisan Saya vs Tulisan Teman Saya

Posted in My Thoughts on November 5, 2007 by leonywesvalia

Ini tulisan teman saya yang saya komentari….

Here it is!!

Thursday, October 11, 2007

Keresahan yang Selalu Datang

This article is published in Mading Eksternal BOE. This one invoked controvercies b’cos relating to a religion and senstitivity. Anyway, I don’t care since I think they just read this with their emotions not with their brains. I’m just trying to analyse conditions in fasting month.

Bulan Ramadhan telah datang pada bulan September ini dan seluruh umat Islam menyambutnya dengan sukacita, karena menurut ajaran agama mereka, bulan ini adalah bulan suci sebab merupakan bulan dimana dosa-dosa mereka dapat diampuni sebelum lebaran tiba, kalau saya tidak salah. Selama satu bulan penuh mereka menjalankan ibadah puasa, menahan lapar, haus, berpikiran kotor, jahat, merokok, dll. Ketika bulan ini tiba berarti segala sesuatu yang berbau godaan mengenai kelaparan, kehausan, pikiran kotor, dll, harus dihapuskan dari bumi Indonesia, yang memang seperti itulah kenyataannya.
Segala sesuatunya nampaknya dirasakan sudah merupakan keharusan dan norma yang harus dipatuhi oleh masyarakat. Warung-warung makan ditutupi dengan gorden agar tidak ada yang melihat makanan tersebut dan membatalkan puasanya, bila ada yang tidak menutupinya akan terkena amuk massa atau para aparat kepolisian yang datang dengan gagahnya bersiap untuk menghancurkan warung makan tersebut atas nama ketaatan beragama, tanpa peduli alasan mengapa mereka berjualan, bahwa pemiliknya akan kehilangan mata pencahariannya yang mungkin untuk waktu yang sangat panjang.
Padahal, mungkin saja banyak orang beragama non-muslim yang tidak mengetahui arti dari gorden yang menutupi makanan bukan berarti rumah makan tersebut tutup. Yang menjadi pertanyaan besarnya adalah, apakah muslimin dan muslimah sendiri takut tergoda dengan semuanya itu? Bukankah lebih baik membiarkan saja orang-orang tersebut leluasa menjalankan usahanya? Bukankah dengan begitu turut memberikan nafkah bagi mereka, lagipula bukankah di bulan puasa ini katanya tidak boleh tidur melulu untuk menghindari rasa lapar, yang menurut saya memiliki esensi bahwa kita harus melakukan sesuatu yang seperti biasanya kita lakukan? Lalu kenapa mereka dilarang berjualan atas nama pahala yang akan didapatkan bila menjalankan puasa dengan baik dan benar, lagipula bila mereka tidak tergoda akan semuanya itu, bukannya lebih mendapatkan ’perhatian’ dari Allah?

Eksternalitas negatif
Apa yang saya tangkap dari datangnya bulan Ramadhan ini adalah kebebasan yang seakan-akan terbabat habis bagi pihak ketiga yang tentu saja merugikan mereka dan mengakibatkan eksternalitas negatif bagi orang tersebut. Saya sangat setuju dengan toleransi beragama, namun dengan melarang orang berjualan dan menghancurkannya tanpa ba-bi-bu, atau memukuli orang yang mungkin terlihat sengaja merokok di depan perokok yang sedang menjalani ibadah puasa bukan cara yang tepat.
Kalau warung makan ada yang dihancurkan karena tidak menutupi tempatnya , saya belum pernah mendengar atau melihat perempuan yang ditelanjangi karena berpakaian seronok. Untung saja perempuan-perempuan yang memakai baju atau celana ketat dan atau rok mini tidak dilarang atau ditelanjangi di depan umum, sebab secara analogi dengan rumah makan yang dihancurkan, seharusnya yang berpakaian seronok menurut mereka ditelanjangi juga tanpa mereka sempat berkata satu kata apapun. Kalau ini terjadi saya tidak bisa membayangkan seberapa besar social cost yang akan ditanggung dan terjadi kerugian yang sangat besar dalam masyarakat.

Front Pengkhianat Islam (FPI)
Saya tidak terlalu resah dengan kejadian penghancuran warung makan dan pelarangan orang yang merokok di depan umum, yang memicu keresahan saya yang terbesar adalah mereka yang mengaku-ngaku sebagai sekumpulan orang pembela Islam yang nampaknya senang sekali dan bangga bisa menghancurkan tempat-tempat hiburan malam sambil menenteng alat pemukul dan perusak lainnya. Mereka seringkali menimbulkan kerusuhan dan mengancam keselamatan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Mengapa saya sebut FPI sebagai pengkhianat Islam? Mereka secara tidak langsung, sebab mereka mungkin tidak tahu arti ajaran agama Islam yang sesungguhnya, telah megkhianati ajaran agama mereka sendiri yang mengharuskan mereka saling mengasihi satu sama lain (setidaknya inilah yang saya tahu). Saya tidak merasa kasihan kepada pemilik tempat hiburan, meskipun kasusnya sejenis dengan pengrusakan rumah makan, karena selain mereka relatif jauh lebih kaya dan sebagian besar melakukan praktik penyuapan, namun saya lebih merasa kasihan terhadap umat muslim lainnya yang seakan-akan mendapatkan persepsi bahwa membela Islam harus seperti itu. Mereka yang tidak bisa menerima stigma umat muslim sebagai teroris, nampaknya harus tertunduk malu karena bantahan mereka tidak beralasan bila melihat apa yang dilakukan oleh FPI. Teror menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah perbuatan yang sewenang-wenang (kejam, bengis, dsb) ; usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Mereka yang melakukan teror disebut teroris. FPI menurut saya cocok menyandang gelar tersebut dan secara tidak langsung umat Islam turut merasakan getah dari stigma tersebut.

Toleransi beragama ≠ pemaksaan
Di awal-awal tulisan secara implisit terlihat bahwa saya mendukung rumah makan yang tidak menutupi makanannya dengan gorden. Bukan itu maksud saya. Apa yang saya tekankan dalam kalimat-kalimat tersebut adalah saya tidak setuju dengan pemaksaan toleransi beragama dengan cara seperti itu. Biarkan saja ada rumah makan yang seperti itu sebab saya percaya dengan Marx yang mengatakan “eksistensi sosial menentukan eksistensi indiviual” dan bukan sebaliknya, sehingga pemilik rumah makan tersebut yang berada di lingkungan yang di dalamnya terdapat rumah makan yang menutupi makanannya dengan gorden akan berpikir untuk melakukan hal yang sama.
Tulisan ini tidak bermaksud menghina umat Islam ataupun menjelek-jelekkan bulan Ramadhan. Akhir kata, bagi teman-teman yang menjalankan ibadah puasa, selamat menjalankan ibadah puasa dengan baik dan benar (Armand Arief)

Trus…saya balas begini..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.