Sudahkan Negara Indonesia Ini Merdeka?


Ini uneg-uneg saya rasakan tepat pada tanggal 17 Agustus 2010. Iya, sewaktu negara Indonesia ini ulang tahun. Berawal dari ramainya twitter, facebook, BBM, dan media sosial dengan ucapan bangga dan harapan tentang Indonesia dari orang yang sok nasionalis, serta hujatan, kritikan, dan sumpah serapah dari orang yang “benci tapi cinta” dengannya. Termasuk saya. Jika tahun lalu saya hampir menangis terharu eh, atau sudah menangis ya? karena melihat para WNA yang begitu cinta pada Indonesia di Kick Andy sedangkan saya masih ya-gitu-deh, tahun ini saya malah skeptis. Mungkin otak saya sudah kebalik-balik ini. Well, move on. Ini tidak penting dibahas. :D

Saya merasa ada yang mengganjal tentang kemerdekaan yang sedang populer dibicarakan masyarakat saat ini. Yaitu pada masalah keagamaan. Oke, saya memang beragama Islam. Saya selalu berusaha menjalankan ajaran agama saya walaupun sampai saat ini begitu banyak hal yang saya pertanyakan. Karena saya BUTUH agama. Namun saya juga pribadi yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, terutama dalam hal kebebasan.

Pada Pancasila sila 1 tercantum bahwa “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Sedangkan pada pasal 29 UUD 45 tercantum bahwa:

Ayat ” (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa“. Ayat (2) berbunyi, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu“.

Pertanyaan saya, lalu bagaimana dengan orang yang berada di luar enam agama yang diakui di Indonesia? Kenapa mereka harus dipaksa untuk memilih salah satu dari keenam agama itu untuk dicantumkan di Kartu Tanda Penduduk (KTP)? Kenapa negara hanya menjamin kemerdekaan untuk orang yang beragama saja? Seharusnya orang yang tidak beragama sekalipun dijamin kemerdekaannya. Yaitu dengan jalan membebaskan mereka untuk tidak mengisi kolom “agama” di KTP mereka. Memang benar negara Indonesia ini diperjuangkan oleh orang-orang yang beragama. Namun tidak lantas hal ini membuat semua orang diwajibkan untuk memiliki agama atau memilih salah satu dari keenam agama tersebut, bukan? Hellooo! Ada apa dengan hak asasi manusia di Indonesia?

Agama memang dapat dijadikan pondasi dan tuntunan dalam kehidupan seseorang. Namun, tidak ada jaminan bahwa orang yang beragama itu akan baik tingkah lakunya. Bahkan, kelompok yang mengatasnamakan diri mereka sebagai Pembela Islam saja tidak mampu mencerminkan pribadi dan tingkah laku yang baik sebagai seorang Muslim. Semua kembali pada daya pikir otak masing-masing, bukan? Otak yang “benar”, perilakunya pasti “baik”, terlepas dia beragama atau tidak.

Lia Eden

Lalu kenapa orang ini ditangkap?

Dia cuma meyakini kepercayaannya. Selama kepercayaannya itu tidak melanggar hukum yang berlaku menurut saya hal ini sah-sah saja. Toh, kita sebagai manusia dilengkapi dengan akal untuk memilih mana yang baik atau tidak baik.

Kapan ya negara saya ini merdeka seutuhnya? Bahkan untuk hal prinsipil seperti agama sekalipun, Indonesia belum merdeka. Begitu banyak pekerjaan-pekerjaan yang harus dibereskan untuk mewujudkan kemerdekaan seutuhnya. At least, mendekati seutuhnya karena memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Well, bagaimanapun juga… Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 65! Semoga kamu berhasil membuat saya ingin menjadi warga negara yang baik dan benar.

5 Responses to “Sudahkan Negara Indonesia Ini Merdeka?”

  1. dapet update terbaru dari:
    http://www.facebook.com/topic.php?uid=104604209740&topic=8690

    Makna Sesungguhnya Di Balik Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

    Sejarah mengatakan bahwa Pancasila dasar Negara Kesatuan Repubrik Indonesia (NKRI) lahir pada 1 Juni 1945. Pancasila lahir didasarkan pada pemikiran tokoh proklamator yang tidak lain adalah Bung Karno.

    Mungkin banyak di antara kita yang tidak mengetahui apa dasar pemikiran Bung Karno pada waktu mencetuskan ide dasar negara hingga tercetuslah ide Pancasila. Dasar pemikiran Bung Karno dalam mencetuskan istilah Pancasila sebagai Dasar Negara adalah mengadopsi istilah praktek-praktek moral orang Jawa kuno yang di dasarkan pada ajaran Buddhisme. Dalam ajaran Buddhisme terdapat praktek-praktek moral yang disebut dengan Panca Sila (bahasa Sanskerta / Pali) yang berarti lima (5) kemoralan yaitu : bertekad menghindari pembunuhan makhluk hidup, bertekad menghindari berkata dusta, bertekad menghindari perbuatan mencuri, bertekad menghindari perbuatan berzinah, dan bertekad untuk tidak minum minuman yang dapat menimbulkan ketagihan dan menghilangkan kesadaran.

    Sila pertama dari Pancasila Dasar Negara NKRI adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalimat pada sila pertama ini tidak lain menggunakan istilah dalam bahasa Sanskerta ataupun bahasa Pali. Banyak di antara kita yang salah paham mengartikan makna dari sila pertama ini. Baik dari sekolah dasar sampai sekolah menengah umum kita diajarkan bahwa arti dari Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Tuhan Yang Satu, atau Tuhan Yang jumlahnya satu. Jika kita membahasnya dalam sudut pandang bahasa Sanskerta ataupun Pali, Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah bermakna Tuhan Yang Satu. Lalu apa makna sebenarnya ? Mari kita bahas satu persatu kata dari kalimat dari sila pertama ini.

    Ketuhanan berasal dari kata tuhan yang diberi imbuhan berupa awalan ke- dan akhiran –an. Penggunaan awalan ke- dan akhiran –an pada suatu kata dapat merubah makna dari kata itu dan membentuk makna baru. Penambahan awalan ke- dan akhiran -an dapat memberi perubahan makna menjadi antara lain : mengalami hal…., sifat-sifat …. Contoh kalimat : ia sedang kepanasan. Kata panas diberi imbuhan ke- dan –an maka menjadi kata kepanasan yang bermakna mengalami hal yang panas. Begitu juga dengan kata ketuhanan yang berasal dari kata tuhan yang diberi imbuhan ke- dan –an yang bermakna sifat-sifat tuhan. Dengan kata lain Ketuhanan berarti sifat-sifat tuhan atau sifat-sifat yang berhubungan dengan tuhan.

    Kata “maha” berasal dari bahasa Sanskerta / Pali yang bisa berarti mulia atau besar (bukan dalam pengertian bentuk). Kata “maha” bukan berarti “sangat”. Jadi adalah salah jika penggunaan kata “maha” dipersandingkan dengan kata seperti besar menjadi maha besar yang berarti sangat besar.

    Kata “esa” juga berasal dari bahasa Sanskerta / Pali. Kata “esa” bukan berarti satu atau tunggal dalam jumlah. Kata “esa” berasal dari kata “etad” yang lebih mengacu pada pengertian keberadaan yang mutlak atau mengacu pada kata “ini” (this – Inggris). Sedangkan kata “satu” dalam pengertian jumlah dalam bahasa Sanksertamaupun bahasa Pali adalah kata “eka”. Jika yang dimaksud dalam sila pertama adalah jumlah Tuhan yang satu, maka kata yang seharusnya digunakan adalah “eka”, bukan kata “esa”.

    Dari penjelasan yang telah disampaikan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa arti dari Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah berarti Tuhan Yang Hanya Satu, bukan mengacu pada suatu individual yang kita sebut Tuhan yang jumlahnya satu. Tetapi sesungguhnya, Ketuhanan Yang Maha Esa berarti Sifat-sifat Luhur / Mulia Tuhan yang mutlak harus ada. Jadi yang ditekankan pada sila pertama dari Pancasila ini adalah sifat-sifat luhur / mulia, bukan Tuhannya.

    Dan apakah sifat-sifat luhur / mulia (sifat-sifat Tuhan) itu ? Sifat-sifat luhur / mulia itu antara lain : cinta kasih, kasih sayang, jujur, rela berkorban, rendah hati, memaafkan, dan sebagainya.

    Setelah kita mengetahui hal ini kita dapat melihat bahwa sila pertama dari Pancasila NKRI ternyata begitu dalam dan bermakna luas , tidak membahas apakah Tuhan itu satu atau banyak seperti anggapan kita selama ini, tetapi sesungguhnya sila pertama ini membahas sifat-sifat luhur / mulia yang harus dimiliki oleh segenap bangsa Indonesia. Sila pertama dari Pancasila NKRI ini tidak bersifat arogan dan penuh paksaan bahwa rakyat Indonesia harus beragama yang percaya pada satu Tuhan saja, tetapi membuka diri bagi agama yang juga percaya pada banyak Tuhan, karena yang ditekankan dalam sila pertama Pancasila NKRI ini adalah sifat-sifat luhur / mulia. Dan diharapkan Negara di masa yang akan datang dapat membuka diri bagi keberadaan agama yang juga mengajarkan nilai-nilai luhur dan mulia meskipun tidak mempercayai adanya satu Tuhan.

    Catatan :
    Bahasa Sanskerta adalah bahasa India kuno yang biasa digunakan oleh kaum terpelajar . Sedangkan bahasa Pali adalah bahasa India kuno yang biasa digunakan oleh orang kebanyakan.

    sumber : http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-22759-Makna-Sesungguhnya-Di-Balik-Sila-Ketuhanan-Yang-Maha-Esa.html

  2. perihal KTP: ternyata BOLEH TIDAK DIISI

    PASAL 61 NOMOR 23 TAHUN 2006
    ayat (2) Keterangan mengenai kolom agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi Penduduk yang agamanya belum diakui sebagal agama berdasarkan ketentuan Peraturan Perundangundangan atau bagi penghayat kepercayaan tidak diisi, tetapi tetap dilayani dan dicatat dalam database Kependudukan.

    Thanks to Yuan Hendrawan, yg udah ngasi update-an.
    Nggak ada noda ya nggak belajar!

  3. Hmn.

    Sebenarnya kerancuan kata ‘ESA” spt yg lu bahas disebabkan oleh agama-agama monoteis (islam, kristen, dan yahudi) yg menekankan hanya SATU tuhan.

    Pdhl dalam agama timur tidak dikenal istilah SATU tuhan ini. Dalam ajaran Buddha bahkan tidak dikenal yg namanya TUHAN spt yg dikenal dlm agama monoteis. Dlm agama monoteis tuhan diidentikkan sbg seorang ‘pribadi’, ‘personal’. Tuhan berkehendak, memiliki sifat-sifat dll. Jd seolah-olah tuhan spt sebuah entitas individu. Tuhan spt ‘SESEORANG’. Dalam ajaran agama timur hanya dikenal SUNYA atau KESUNYATAAN sbg entitas tertinggi. Mungkin ini bisa disamakan dg tuhan dlm agama monoteis, tetapi bedanya dalam ajaran Buddha entitas tertinggi ini tidak ber-’pribadi’ sehingga ia SUNYA. Sunya artinya bukan satu juga bukan tidak ada, konsep bilangan tdk bisa digunakan di sini untuk menjelaskannya.

    Nah,jd konsep agama timur (spt Buddha) itu benar-benar berbeda dg konsep agama dalam monoteisme. Anda yg beragama islam dan kristen mungkin akan sulit memahaminya.

    Duh gw juga bingung. Intinya ketika mempelajari agama timur maka hrs dilepaskan dulu konsep agama spt dlm monoteisme. Kl tidak akan berputar-putar dan bingung. Dan inilah yg meracuni bangsa Indonesia, konsep agama dan tuhan yang ESA hanya dipahami dari sudut pandang agama monoteis saja.

    • HHmmmm…saat ini gw mulai berpikir bahwa agama itu cuma “alat” untuk memperoleh ketenangan lahir dan batin.merupakan sebuah pengakuan bahwa ada yg lebih “besar” dari manusia dan alam itu sendiri.entah apa zatnya.mungkin saja namanya berbeda di setiap agama.tetapi pada hakikatnya semua yg kita panggil “tuhan” itu adalah satu…

  4. saya juga bingung ya knpa di dunia ini bnyak yang mengku tuhan dan rasull aneh tp nyata!!!!! bagusnya orang seperti itu di lempar di laut di jadikan roda gila..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 367 other followers